Bantu Sediakan Lahan Parkir Jelang Lebaran, Masyarakat Banten Lama Merasa Dibohongi Pemprov Banten

Serang – Masjid Agung Banten Lama, siapa yang tidak mengenal ikon Provinsi Banten yang terletak di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Dibangun oleh Sultan Hasanudin pada abad ke-16 dengan tujuan menyebarkan luaskan agama islam di tanah Nusantara terutama di wilayah Banten.

Sejarah penyebaran islam ini yang kemudian menjadi cikal bakal Provinsi Banten berjuluk Provinsi dengan seribu ulama dan sejuta santri. Hal ini lah yang membuat Masjid Agung Banten Lama tak pernah sepi dari pengunjung yang hendak berziarah maupun menikmati wisata religi.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, jutaan pengunjung dapat dipastikan datang silih berganti berziarah ke Makam Hasanudin untuk memberikan penghormatan atas jasa Sultan Banten yang telah menyebar luaskan agama islam di bumi jawara ini.

Hal ini pula yang mendorong Gubernur Banten Wahidin Halim melalui Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) Provinsi Banten, untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung pada hari raya Idul Fitri dengan menyediakan lahan parkir sementara yang dapat menampung ribuan kendaraan.

Salah satu warga yang ditunjuk sebagai penanggung jawab pembangunan lahan parkir tersebut mengungkapan rasa kecewa terhadap Pemerintah Provinsi Banten yang seakan membohongi masyarakat Banten Lama yang telah membantu proyek pengadaan lahan parkir sementara (Parkir Ciputri).

Dirinya menyebut, pada awalnya Dinas Perkim meminta dirinya untuk membangun lahan parkir Ciputri diatas lahan seluas 4 hektar yang sudah dibebaskan untuk Baitul Quran.

“Sedikit sekedar menjelaskan yg awal nya proyek urugan yang lokasinya di Ciputri judul nya swa kelola tipe 4 yang mangacu kepada perpres, yang biasa digunakan APBN, akan tetapi selesai pekerjaan begitu proses penagihan ada kendala dalam administrasi, karena terbentur dengan peraturan,” ucap warga yang tidak berkenan disebut namanya melalui pesan whatsapp.

Warga yang telah membantu Pemerintah Provinsi dalam menyediakan lahan parkir tersebut merasa kecewa dan dibohongi. Pasalnya pada awal perjanjian Dinas perkim menyebut bahwa proyek ini swa kelola yang artinya anggaran telah tersedia dan akan dibayarkan secara bertahap dengan tempo 3 kali pembayaran (40% – 30% – 30%).

“Karena anggaran yang digunakan bukan anggaran APBN melainkan anggaran APBD sehingga tidak sama dengan peraturan perda dan pergub katanya seperti itu. Maka dari itu yang membikin lama, adanya perubahan dalam administrasi, sehingga harus di lakukan pergeseran,” tambahnya.

Walau telah memberikan penjelasan terkait pembayaran proyek parkiran sementara Ciputri, namun warga yang bekerja membangun lahan tersebut merasa dibohongi. Selain telah mengeluarkan uang hingga ratusan juta, waktu dan tenaga yang terbuang untuk membantu rencana Pemprov tidak dihargai.

“Melalui Kabid Perkim Banten sunarko dan PPTK nya Ade, memberitahukan jika pembangunan awal yang bersifat swa kelola dirubah menjadi PL karena menggunakan APBD jadi terbentur Perda dan Pergub. Anehnya kenapa tidak dijelaskan dari awal jika akan terbentur jadikan kami bisa ambil sikap untuk menunda pembangunan, ini sudah terbangun baru diinformasikan,” katanya.

Untuk diketahui lahan parkir Ciputri yang dijadikan lahan perkir sementara dibanguan diatas tanah 7000 meter persegi dari luas lahan 4 hektar yang dibebaskan untuk Baitul Quran. Pembangunan lahan parkir sementara ini juga telah menghabiskan uang hingga 400juta rupiah untuk pengurukan material sebanyak 340 truk/rit.

Dari informasi yang diterima, pada moment Hari Raya Idul Fitri, lahan parkir sementara Ciputri berhasil mengurai kendaraan yang membludak dan mendapatkan pemasukan hingga 28 juta rupiah dalam satu hari. (*)

Sharing is Caring

Baca Juga

– Advertorial –

Berita Terpopuler