Mana Mungkin “Back to School”, Gedung Sekolah Dipakai Isolasi Pasien Covid-19

persepsi.co.id – Virus ganas Covid-19 kembali membara di beberapa wilayah di Indonesia. Termasuk wilayah di Provinsi Banten.

Situasi yang gawat itu membuat banyak rencana, terutama menggelaran Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kembali diundur.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengumumkan bahwa satuan pendidikan di tujuh provinsi yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat wajib melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Belajar dan mengajar dari rumah sesuai ketentuan PPKM Darurat yang berlaku,” kata Pelaksana tugas Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbudristek, Hendarman, dalam siaran pers, Kamis, 1 Juli 2021.

Tujuh provinsi yang wajib menggelar PJJ ini antara lain DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.

Hendarman menjelaskan, aturan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi masih berdasarkan Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan mengutamakan kesehatan dan keselamatan semua insan pendidikan dan keluarganya.

Pembelajaran di masa pandemi akan berlangsung secara dinamis menyesuaikan risiko kesehatan dan keselamatan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, yakni PPKM, baik PPKM Mikro maupun PPKM Darurat,” ujarnya.

Untuk satuan pendidikan di wilayah selain tujuh provinsi dalam PPKM Darurat, kata Hendarman, dapat memberikan opsi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas setelah memenuhi daftar periksa yang dipersyaratkan.

Orangtua atau wali pada wilayah selain tujuh provinsi dalam PPKM Darurat memiliki kewenangan penuh dalam memberikan izin kepada anaknya untuk memilih antara mengikuti PTM terbatas atau PJJ.

“Sekolah wajib menyediakan opsi PTM terbatas dan PJJ, serta tidak melakukan diskriminasi kepada peserta didik yang memilih opsi PJJ,” kata dia.

Wacana Pemkot Serang Jadikan Sekolah Tempat Isolasi Mandiri Pasien Covid-19

Hari W Pamungkas

Pemerintah Kota (Pemkot) Serang berencana menjadikan sejumlah sekolah sebagai tempat isolasi mandiri bagi pasien Covid-19 dengan gejala ringan.

Ketua Satgas Covid-19 Kota Serang Hari W Pamungkas, mengatakan, hal itu dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir terjadinya penumpukan pasien Covid-19 di sejumlah RS rujukan.

“Pasien Covid-19 dengan gejala ringan itu kan tidak mesti dilakukan perawatan di RS, cukup isolasi di rumah masing-masing,” ucapnya.
Tapi jika tidak bisa, lanjut Hari, maka pemerintah menyiapkan tempat alternatif untuk isolasi.

“Di dekat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Serang itu ada sekolah, nanti coba kami kordinasikan karena Pembelajaran Tatap Muka (PTM) juga belum pasti kan,” tambahnya.

Selain itu, di beberapa sekolah dekat Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang juga rencananya akan dijadikan tempat isolasi mandiri.
“Tempat-tempat itu akan dijadikan sebagai alternatif saja, karena yang sekarang sudah ready adalah rusunawa di kecamatan Kasemen dengan jumlah bas sebanyak 117,” jelasnya.

Namun, dijelaskan Hari, karena lokaisnya yang cukup jauh dari Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) sampai saat ini Pemkot masih melakukan pertimbangan dan analisa.

“Jangan sampai nanti menyusahkan para Tenaga Kesehatan (Nakes) kami yang bolak-balik ke sana ke sini, makanya ada alternatif nanti dijadwalkan untuk penugasannya,” ujarnya.

Satgas akan memprioritaskan penggunaan Rusunawa itu untuk masyarakat Kota Serang, meskipun dalam hal pelayanan kesehatan dan kemanusiaan pihaknya tidak diperbolehkan menolak pasien dari manapun.

“Bisa saja dari luar daerah juga selama kuotanya masih ada, tapi tentu kami lebih memprioritaskan masyarakat Kota Serang,” pungkasnya.

Guru Besar UNTIRTA Dukung Sekolah Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Guru Besar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Sholeh Hidayat mendukung rencana Pemerintah Kota Serang untuk memanfaatkan gedung sekolah sebagai tempat isolasi mandiri bagi pasien Covid-19 hal ini karena saat ini tren Covid-19 sedang meningkat sehingga Pemerintah Kota memerlukan sarana layanan kesehatan tambahan bagi pasein Covid-19.

Menurutnya, di tengah keterbatasan sarana dan fasilitas layanan kesehatan, tidak menjadi masalah sekolah yang lokasinya dekat dan fasilitasnya memenuhi persyaratan, untuk menjadi tempat fasilitasi kesehatan bagi yang terinfeksi Covid-19.

Ia menjelaskan, saat ini hal yang utama adalah kesehatan dan keselamatan jiwa. Mengingat saat ini kegiatan pembelajaran dilakukan secara, distance learning (belajar jarak jauh) melalui online learning.

Orangtua sebagai salah satu stakeholder pendidikan bersama-sama dengan sekolah, memberikan perhatian dan turut memberikan bimbingan belajar saat melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di rumah.

“Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menyisakan sejumlah persoalan antara lain adalah learning loss (belajar yang hilang), minat dan motivasi belajar menurun, keterbatasan untuk mengakses internet memungkinkan anak kehilangan kesempatan belajar,” katanya.

Untuk mengurangi resiko tersebut, maka sekolah harus melakukan terobosan dengan membuat program pembelajaran yang menarik dan memotivasi, dengan menggunakan beragam platform pendidikan online.

“Disinilah guru ditantang untuk berkreasi yakni membuat sesuatu yang baru,” imbuhnya.

Penolakan Guru SMP NEGERI 2 Kota Serang dan Orangtua Murid Atas Rencana Menjadikan Sekolah Sebagai Tempat Isolasi Mandiri

Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kota Serang yang diwacanakan menjadi tempat isolasi mandiri pasien Covid-19

Guru dan orangtua murid di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kota Serang mengaku keberatan dengan rencana Pemkot Serang yang mewacanakan SMP tersebut sebagai tempat perawatan pasien Covid-19. Mereka khawatir dengan efek yang bisa ditimbulkan pasca penggunaan sekolah menjadi tempat perawatan pasien Covid-19.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana SMP Negeri 2 Kota Serang Imanudin mengatakan, adanya wacana SMPN 2 yang akan difungsikan sebagai tempat penampungan pasien Covid-19 membuat guru dan orangtua murid terkejut. Mereka merasa risih dengan rencana itu mengingat hebatnya efek yang bisa ditimbulkan oleh virus ini.

Imanudin menyatakan, pihak sekolah memang akan sepenuhnya mengikuti arahan dan perintah dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang sebagai dinas yang mengeluarkan kebijakan soal pendidikan. Atau Walikota Serang sebagai kepala daerah dan Ketua Satgas Covid-19.

Namun, bila memungkinkan untuk bisa memilih, maka ia akan memilih agar SMPN 2 tidak dijadikan sebagai alternatif tempat perawatan pasien Covid-19.

“Kalau sudah ada SK kami tidak bisa menolak. Tapi kalau bisa memilih, kami minta SMPN 2 tidak dipilih sebagai tempat pelayanan pasien Covid-19,” katanya.

Ia menuturkan, bila sekolah dijadikan tempat pasien Covid-19, maka orangtua murid pasti keberatan merelakan anak mereka ke sekolah. Sebab di sekolah ada pasien Covid-19.

Sementara saat ini, meski belum menggelar pembelajaran tatap muka tetapi kami tetap membuka ruang pelayanan baik bagi siswa maupun orangtua dengan berbagai keperluan.

Saat dihubungi melalui pesan Whatsapp, Kepala SMP Negeri 2 Kota Serang Rahmat mengatakan jika banyak guru dan orangtua murid keberatan atas wacana ini.

“ Saya lihat di grup WhatsApp yang beranggotakan para guru dan orangtua, sejumlah guru dan orangtua menyatakan keberatan akan rencana penggunaan SMPN 2 sebagai tempat untuk merawat pasien Covid-19. Namun, bila hal itu sudah menjadi keputusan Pemkot Serang, maka ia akan tetap menerima keputusan itu.” Ucap Rahmat.

Rahmat mengatakan, Kekhawatiran orangtua adalah bila sekolah sudah selesai dijadikan tempat perawatan pasien Covid-19, maka dikhawatirkan virus Covid-19 masih ada di sekolah. Hal inilah yang membuat para orangtua keberatan bila sekolah dijadikan tempat untuk merawat pasien Covid-19. (Laporan : Victor Manuel)

Sharing is Caring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *