Jangan Tergesa Gelar PTM, Persiapkan Dengan Matang

Laporan : Victor Manuel

persepsi.co.id – Lonjakan kasus COVID-19 yang tinggi beberapa hari terakhir mendorong Pemerintah mengeluarkan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali yang sejak tanggal 3 hingga 20 Juli 2021.

Dalam siaran pers yang diterima, Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah meminta Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) serta Pemerintah Daerah untuk segera mengambil keputusan tentang metode pembelajaran pada pembukaan pendidikan tahun ajaran baru 2021/2022.

“Tahun ajaran baru dimulai pada pertengahan Juli 2021. Artinya masih dalam suasana PPKM di Jawa dan Bali, maka harus ada kebijakan yang jelas dan pasti bagi sekolah agar mereka bisa fokus mempersiapkan diri,” tutur Ledia, (07/07/2021).

Menimbang situasi saat ini, kata Ledia, maka keputusan memperpanjang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah bagi anak sekolah semestinya segera diambil. “Ini demi kemaslahatan kita bersama,” tegasnya.

12,9 Persen Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

Politisi Fraksi PKS itu menjelaskan, lonjakan kasus Covid-19 ini patut menjadi perhatian semua pihak. Apalagi sebagian besar kasus ditengarai akibat varian Covid-19 Delta, yang dinilai lebih ganas dan lebih cepat penyebarannya. Selain itu, dirinya memperhatikan jumlah kasus anak yang terkena Covid-19 semakin bertambah.

“Berdasarkan informasi yang diterima dari Satgas Penanganan Covid, 12,6 Persen anak di Indonesia atau lebih dari 260 ribu terpapar virus mematikan tersebut, sehingga kita harus sangat sigap membuat keputusan yang akan kita ambil terkait pembukaan tahun ajaran baru,” ungkap Ledia.

Sedangkan di Provinsi Banten sendiri, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat ada 2.972 anak terpapar Covid-19, bahkan 12 diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

“Sejak awal pandemi hingga saat ini sudah 2.972 anak terdampak COVID-19, selama pandemi tercatat 12 anak meninggal,” kata Ketua IDAI Banten Didik Wijayanto, melalui pesan singkat WhatsApp (08/07/2021).

Didik mengatakan, Pengurus Pusat IDAI sendiri sudah memberikan rekomendasi apabila Pembelajaran Tatap Muka memang harus dilakukan. Namun, dalam rekomendasi itu Pembelajaran Tatap Muka belum direkomendasikan.

“PP IDAI sudah mengeluarkan rekomendasi mengenai pembukaan sekolah, banyak sekali syarat yang harus dipenuhi, IDAI juga membuat panduan dan syarat bagi penyelenggara, orang tua dan evaluator apabila Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dilakukan.” Kata Didik.

Berikut adalah Panduan dan Syarat Rekomendasi IDAI :

1. Semua guru dan pengurus sekolah yang berhubungan dengan anak dan orangtua atau pengasuh harus sudah divaksin.

2. Buat kelompok belajar kecil. Kelompok ini yang berinteraksi secara terbatas di sekolah. Tujuannya jika ada kasus konfirmasi positif, contact tracing dapat dilakukan secara efisien.

3. Jam masuk dan pulang sekolah harus bertahap untuk menghindari penumpukan siswa.

4. Penjagaan gerbang dan pengawasan diperlukan untuk mencegah kerumunan di gerbang sekolah.

5. Jika menggunakan kendaraan antar jemput, pastikan semua memakai masker dan menjaga jarak serta membuka jendela mobil.

6. Buka semua jendela kelas. Gunakan area outdoor jika memungkinkan. Jika berada di ruang kelas tertutup pastikan memakai High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter.

7. Membuat pemetaan risiko siswa dengan komorbid, orangtua siswa dengan komorbid, atau tinggal bersama lansia atau guru dengan komorbid. Anak dengan komorbiditas atau penyakit kronik sebaiknya tetap belajar secara daring.

8. Idealnya sebelum membuka sekolah, semua anak maupun guru dan petugas sekolah harus melakukan tes swab dan secara berkala dilakukan pemeriksaan swab ulang.

9. Ada fasilitas cuci tangan di lokasi-lokasi strategis di sekolah (sebelah kelas, sebelah toilet, dll).

10. Jika ada anak atau guru atau petugas sekolah masuk kriteria suspek, maka harus bersedia melakukan tes swab.

11. Sekolah dan tim UKS menyiapkan alur mitigasi jika ada warga sekolah yang sakit dan sesuai kriteria diagnosis suspek atau probable atau kasus terkonfirmasi COVID-19.

12. Melatih siswa untuk menggunakan masker secara benar dan menyediakan tempat pembuangan masker, serta menyediakan masker cadangan.

13. Melatih anak untuk tidak memegang mata, hidung, dan mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian mengajari etika batuk dan bersin yang benar

14. Melatih anak untuk mengenali tanda COVID-19 secara mandiri dan melaporkan jika ada orang serumah yang sakit. Kemudian tidak melakukan stigmatisasi terhadap teman yang terinfeksi COVID-19.

15. Jika anak sakit atau perlu isolasi, sekolah menekankan pentingnya tetap ada di rumah, tanpa takut soal pengurangan nilai.

Tunda Dulu PTM

DANSECAPA-AD saat berbagi kisah dan pengalaman di Program Fellowship Jurnalisme Peduli Pendidikan yang diselenggarakan oleh PT. Paragon Technology and Innovation

Selaras dengan pernyataan Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah. Komandan Sekolah Calon Perwira TNI Angkatan Darat (DANSECAPA-AD) Mayor Jenderal TNI Ferry Zein memberikan masukan agar saat ini tidak menyelenggarakan PTM Terbatas di sekolah umum.

“Sekolah militer dan sekolah umum itu sangat berbeda. Karena kalau di sekolah militer sudah terbentuk budaya disiplin tinggi,” ujar Mayjen TNI Ferry Zein saat berbagi kisah dan pengalaman dihadapan peserta dan mentor Program Fellowship Jurnalisme Pendidikan angkatan kedua secara daring, Senin (5/7/2021).

Tujuan dihadirkannya Komandan Secapaad tentu untuk memberi gambaran keberhasilan pembelajaran tatap muka yang digelar SECAPA-AD. Bahkan beberapa bulan ini tidak ada kasus Covid-19 di lingkungan SECAPA-AD.

“Melihat kondisi saat ini, saya menyarankan untuk tidak diadakan terlebih dahulu PTM terbatas di sekolah. Karena situasinya sangat sulit,” tegas Mayjen Ferry.

Namun kita sangat berharap bahwa kasus Covid-19 turun maka baru bisa digelar Pembelajaran Tatap Muka di sekolah, karena idealnya pendidikan harus dilaksanakan secara tatap muka bukan virtual.

Tips PTM terbatas dari DANSECAPA-AD

Mayjen Ferry Zein memberikan tips bagi satuan pendidikan umum, mengenai hal-hal yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran tatap muka terbatas.

1. Pelatihan
Hal pertama adalah memberikan pelatihan bagi guru atau tenaga pendidik di sekolahh tentang bagaimana melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat.

Tentu harapannya agar semua warga sekolah aman dan terhindar dari penularan Covid-19.

“Jadi, guru atau pendidik di sekolah dilatih dahulu terkait penyelenggaraan PTM Terbatas,” kata Ferry.

2. Disiplin
Semua harus disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Tak hanya siswa, guru, karyawan, tetapi semua warga sekolah yang terlibat di lingkungan sekolah tersebut.

3.Pengawasan
Perlu adanya pengawasan dari Pemerintah Daerah setempat. Bahkan bisa melibatkan anggota TNI dan Polri agar penyelenggaraan PTM terbatas di sekolah benar-benar berjalan dengan baik.

“Kita semua tahu bahwa tingkat kesadaran masyarakat Indonesia rendah. Maka perlu adanya pengawasan dan bisa melibatkan Pemda, TNI juga Polri,” jelas Mayjen TNI Ferry Zein. (***)

Sharing is Caring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *