Salman Subakat, Perancang Ekosistem Pendidikan

Dengan ketajaman pandangan pria yang kini menjabat Chief Executive Officer (CEO) PT. Paragon Technology and Innovation, masyarakat luas bisa mengikuti pandangannya.

Bagi dia, pendidikan adalah salah satu jalan tercepat untuk meningkatkan perekonomian keluarga di Indonesia.

“Dari pendidikan juga saya melihat migrasi sosial yang sangat cepat, jadi misalnya anak petani bisa saja menjadi kepala R&D (Research and Development) dalam kurun waktu 4 tahun, gak ada yang lebih cepat dari pendidikan. Seandainya gak pakai pendidikan saya rasa gak akan loncat, ibaratnya tidak ada katalisatornya sehingga hanya linear,” tutur pria bernama Salman Subakat kelahiran Jakarta itu.

Salman lahir tahun 1980 tepatnya pada 20 Juli di Jakarta, ketika kota Jakarta masih relatif sepi. Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan masih berupa tanah kosong, dengan kondisi tanah mirip sawah tegalan.

Di kota Jakarta yang saat itu belum terbangun seperti sekarang itulah, Salman Subakat dilahirkan oleh ibundanya, Nurhayati Subakat, istri Subakat Hadi.

Menghabiskan masa kecil hingga remaja di Jakarta, saat ini pria persilangan Minangkabau-Jawa ini menjabat sebagai CEO PT. Paragon Technology and Innovation.

PT. Paragon Technology and Innovation merupakan perusahaan manufaktur kosmetik nasional terbesar di Indonesia dan pemegang beberapa merek-merek unggulan seperti Wardah, Make Over, Emina, IX, dan Putri.

Usai menyelesaikan studinya di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Electrical Engineering, Salman ditunjuk sebagai penerus, sebab perusahaan ini sudah didirikan sejak tahun 1985 oleh Nurhayati Subakat dengaSalman Subakat dan Nurhayati Subakat

Meski pada awalnya Salman menolak, dan memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang Master pada tahun 2002. Namun, ia merasa berutang budi kala itu kepada para pegawai di PT Paragon Technology and Innovation

“Saya sadar saya bisa kuliah dengan tenang berkat kerja keras seluruh karyawan perusahaan. Saya merasa terpanggil untuk pay back,” ujar Salman.

Dan sekarang, pria yang pernah bersekolah di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Azhar Jakarta ini, memimpin perusahaan yang mempekerjakan kurang lebih 10.000 pegawai, mengendalikan 41 pusat distribusi di seluruh Indonesia, dan punya lebih dari 200 mitra kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR).

Selain terus mengembangkan kemajuan bisnis dan manajemen Wardah, Salman juga punya komitmen dengan kegiatan sosial. Ia ingin perusahaannya punya kepedulian yang kuat dalam bidang sosial dan tidak melulu mengejar profit. Ia juga bergerak di bidang sosial terutama di sektor pendidikan.

Beberapa program atau gerakan menyangkut pendidikan yang dijalankannya antara lain Wardah Inspiring Teacher, Inspiring Lecturer Paragon dan Lecturer Coaching Movement. Serta Ada pula Jabar Innovation Fellowship, Paragon Innovation Fellowship, Lecture Coaching Movement, INS Kayu Tanam Restoration, dan Pemimpin.id .

Ibarat dua sisi mata uang, Salman menganggap sektor pendidikan menempati salah satu sisinya. Sisi lainnya ialah kesehatan. Pendidikan bersama kesehatan merupakan kunci utama maju-mundurnya suatu negara.

“Kalau ingin Indonesia maju, pendidikannya juga harus maju,” kata Salman saat menghadiri kegiatan Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 yang digagas Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan didukung PT Paragon Technology and Innovation melalui zoom pada Rabu (21/07/2021).

Lulusan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 8 Jakarta ini, memberikan alasan lain mengapa ia punya perhatian tinggi terhadap pendidikan di Indonesia dan alasannya adalah karena latar belakang keluarganya yang merupakan bagian dari pendidikan.

“Kalau secara ideologi atau spirit, Paragon itu sebenarnya adalah sekolah, dan latar belakang kedua orang tua saya yang berprofesi sebagai dosen. Kemudian kakek dan nenek saya sebenarnya juga guru sekaligus pengusaha, dan nenek sampai saat ini masih aktif sebagai guru,” ujar pria yang baru saja merayakan ulang tahun ke-41 ini.

Sejalan dengan Paragon, Salman sendiri punya cita-cita kuat mengembangkan dunia pendidikan. “Pendidikan itu memiliki makna yang sangat dalam. Kita ketemu teman, berinovasi, punya bapak ideologis di kampus itu (awal mulanya) dari pendidikan. Dari situlah kita ingin Paragon itu rasanya seperti di kampus juga, tempat kita untuk tumbuh dan berkembang,” sambung Salman.

Merancang Ekosistem

Diawali dari perusahaan yang dikelolanya, Salman mulai merancang ekosistem, terutama ekosistem pendidikan.

“Ekosistem akan menyatukan kita semua, semuanya bisa berkontribusi. Ekosistem bisa antar pengusaha, media tipe a dengan tipe b, hubungan antar dosen, kampus ke sekolah. Namun hal ini memiliki tantangan, maka dari itu ekosistem harus tepat,” jelas Salman.

Ekosistem dibangun sepanjang hayat dengan pelibatan pengusaha, perusahaan, pemerintah, media, universitas, dan masyarakat. Ditambah dengan inovasi, ekosistem akan memiliki daya unggul.

Salman menjelaskan, dengan inovasi, akan muncul inovator 3 kali lipat, bisnis berkembang 3 kali lebih cepat, sumber daya manusia di dalamnya juga 2-3 kali berkembang lebih cepat, dan risiko bisnisnya bisa 3 kali lebih kecil.

Ukuran sebuah ekosistem yang telah terbangun, kata Salman, adalah emosional. Misalnya, diskusi yang akrab dengan suasana intens, kultur inovasi yang terbentuk. Karena itu, alih-alih mendapatkan keuntungan secara fungsional, Salman dan perusahaannya bisa menaikkan keuntungan emosional ketika berinteraksi dalam sebuah ekosistem. “Bisa jadi sebuah life changing experience,” ujarnya.

Hal itulah yang membuat kemudian tercetuslah Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) sejak 2020 lalu hingga saat ini. Dan berharap GWPP dapat menjadi organisasi yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia, dengan misi menempuh pendidikan dalam arus media massa dan pemberitaan menuju Indonesia emas 2045.

Dengan mimpi terbesar Salman, alumni GWPP Indonesia bisa menjadi inovator di medianya, di komunitasnya dan membawa perubahan.

Menutup perbincangan, salah seorang mentor dari program Fellowship Jurnalisme Pendidikan yang juga wartawan senior, Frans Surdiasis, menilai bahwa Salman Subakat adalah sosok yang sangat inspiratif.

“Mas Salman itu orang yang kaya, ya dia itu kaya. Kalau ditanya kaya apa dari sudut pandang kita sebagai wartawan tentu jawabannya ada kaya tindakan, kaya pengalaman, kaya pemikiran yang pantas kita bagi dengan pembaca kita,” paparnya.

Frans mengatakan bahwa dari pelaksanaan Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch pertama hingga kedua, ia selalu bertanya apa perbedaan antara Salman Subakat dengan Paragonnya dibandingkan pengusaha atau perusahaan lain. Dan ia mengatakan bahwa yang membedakan adalah pendekatan ekosistemnya.
“Saya rasa pendekatan ekosistem itu dilakukan secara holistik dan bukan partikularistik. Jadi medan berfikirnya diarahkan ke satu medan yang luas,” kata Frans.

Dan, kata Frans, itu sama persis yang dilakukan Salman dengan PT Paragon, bukan hanya sekedar dengan beasiswa tapi dengan komponen-komponen utama dalam ekosistem itu dibantu atau difasilitasi sehingga tumbuh bersama.(Victor Manuel)

Sharing is Caring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *