JAKARTA, (Persepsi.co.id) – ATRAKSI (Asosiasi Tari dan Koreografer Indonesia) resmi diluncurkan sebagai wadah kolaborasi serta penguatan ekosistem seni tari nasional. Peluncuran berlangsung di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, dengan kehadiran para tokoh penting dari sektor budaya dan ekonomi kreatif nasional.
Yang hadir antara lain Wakil Menteri (Wamen) Kebudayaan Indonesia Giring Ganesha, Wamen Ekonomi Kreatif Irene Umar, dan Staf Khusus Presiden RI Bidang Ekonomi Kratif Yovie Widianto, Ketua ATRAKSI Reza Muhammad, serta Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta Deny Yusyulian. Terlihat hadir sejumlah artis legendaris seperti Hedi Yunus, Denny Malik, Arie Tulang, dsb.
“ATRAKSI menjadi simbol komitmen bersama dalam merawat dan memperkuat keberlangsungan seni tari di Indonesia,” ujar Wakil Menteri Kebudayaan Indonesia, Giring Ganesha. Giring menyampaikan apresiasinya terhadap BPJS Ketenagakerjaan yang terus aktif melindungi pekerja seni dari berbagai sektor.
Ia menyebut kolaborasi sebelumnya antara BPJS Ketenagakerjaan dengan Kementerian Kebudayaan dalam melindungi para aktor film yang tergabung dalam Parfi 56. “Saya salut kepada BPJS Ketenagakerjaan karena tidak pernah lelah memberi perlindungan kepada para pekerja seni,” kata Giring.
Kini, melalui kerja sama dengan ATRAKSI, para penari dan koreografer juga akan mendapatkan jaminan perlindungan sosial ketenagakerjaan. Menurut Giring, para pelaku seni selama ini hidup dalam kekhawatiran terhadap risiko pekerjaan yang tidak terduga.
“Bayangkan jika tulang punggung keluarga mengalami kecelakaan kerja, dampaknya luar biasa,” ungkap Giring.
Dengan kehadiran program BPJS Ketenagakerjaan, para pelaku seni kini memiliki jaminan yang bisa diandalkan. Giring menegaskan keamanan sosial menjadi penting dalam memberikan ketenangan saat berkarya. “Amit-amit kalau terjadi apa-apa, kita dan keluarga bisa tetap merasa aman,” ujar Giring.
Giring juga menyampaikan pengalamannya menyaksikan langsung manfaat dari program BPJS Ketenagakerjaan untuk keluarga pekerja seni. Dari jaminan pemulihan hingga santunan kematian, semua dikelola dengan baik dan berdampak nyata. “Biaya pemakaman, pengajian, bahkan beasiswa anaknya ditanggung—ini luar biasa,” tutur Giring.
Mendampingi Giring, Kakanwil BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta Deny Yusyulian mengatakan kolaborasi bersama ATRAKSI, pihaknya akan melindungi seluruh ekosistem seni tari di Indonesia.
Menurut Deny, aktivitas tari termasuk berisiko karena tak jarang menampilkan gerakan-gerakan yang berpotensi cedera.
Dikatakan, para penari, koreografer, dan pekerja seni yang tergabung akan mendaftar dalam tiga program utama: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Hari Tua (JHT). “Iurannya pun sangat terjangkau, hanya Rp36.800 per bulan,” jelas Deny.
Sementara itu, Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Salemba, Brian Aprinto, menyampaikan untuk berkomitmen dalam mengawal implementasi perlindungan bagi komunitas tari.
“Kami akan aktif dalam implementasi perlindungan agar para penari dan koreografer mendapatkan hak perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan,” ujar Brian.
Brian menyampaikan bahwa langkah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan awal dari gerakan masif perlindungan sosial di dunia seni. Koordinasi dan sosialisasi akan dilakukan secara berkelanjutan untuk menjangkau lebih banyak pekerja seni.


