Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd.
(Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan 1,2,3 Banten)
4 Oktober adalah momentum bersejarah bagi masyarakat Banten. Pada tanggal inilah Banten lahir sebagai sebuah provinsi, berdiri dengan identitas, sejarah, budaya, dan cita-cita untuk menentukan masa depannya sendiri.
Maka, Dirgahayu Banten!
Semoga bertambahnya usia Banten bukan sekadar bertambahnya angka dalam sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk bertanya: sudah sejauh mana Banten maju, sejahtera, berdaya saing, dan bermartabat?
Sebab sebuah provinsi tidak akan maju hanya karena usianya bertambah. Kemajuan membutuhkan visi, keberanian, kecerdasan, karakter, kerja keras, dan kepemimpinan yang memiliki orientasi jauh ke depan.
Banten Tidak Boleh Berjalan Tanpa Arah
Banten adalah daerah yang memiliki modal sejarah dan sumber daya yang sangat besar.
Banten memiliki posisi geografis yang strategis, kekayaan alam, kawasan industri, pertanian, kelautan, pariwisata, perguruan tinggi, pesantren, sumber daya manusia, serta masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan dan kebudayaan yang kuat.
Banten juga memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban Islam dan perdagangan Nusantara.
Namun semua potensi itu tidak otomatis berubah menjadi kemajuan.
Potensi tanpa visi hanya akan menjadi potensi.
Sumber daya alam tanpa tata kelola yang baik dapat habis tanpa meninggalkan kesejahteraan. Pembangunan tanpa perencanaan jangka panjang dapat menghasilkan bangunan, tetapi belum tentu menghasilkan peradaban.
Karena itu, Banten membutuhkan kepemimpinan yang mampu melihat bukan hanya apa yang ada hari ini, tetapi juga Banten seperti apa yang harus diwujudkan sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun yang akan datang.
Banten membutuhkan pemimpin yang visioner.
Gubernur Bukan Sekadar Pemegang Jabatan
Menjadi gubernur memang sebuah kehormatan.
Tetapi memimpin Banten jauh lebih besar daripada sekadar menerima kehormatan.
Jabatan gubernur adalah amanah.
Di dalam amanah itu terdapat jutaan harapan masyarakat: harapan seorang petani agar hasil pertaniannya dihargai, harapan nelayan agar kehidupannya semakin baik, harapan pedagang agar usahanya berkembang, harapan guru agar pendidikan semakin maju, harapan santri agar pesantren mendapatkan ruang untuk berkembang, harapan anak muda agar memperoleh pekerjaan, serta harapan masyarakat kecil agar mendapatkan pelayanan pemerintah yang adil.
Karena itu, seorang gubernur tidak boleh menjadikan jabatan sebagai tujuan.
Jabatan adalah alat untuk melakukan pengabdian.
Dalam perspektif Islam, amanah bukan sesuatu yang ringan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa: 58)
Maka, ketika seseorang dipercaya memimpin sebuah provinsi, sesungguhnya ia sedang menerima amanah yang sangat besar.
Banten Membutuhkan Pemimpin yang Visioner
Pemimpin Banten ke depan harus mempunyai visi yang jelas.
Bukan sekadar bagaimana membangun gedung pemerintahan, jalan, jembatan atau infrastruktur fisik, tetapi bagaimana membangun manusia Banten.
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya membangun tempat, tetapi membangun kehidupan.
Banten harus mempunyai lompatan pembangunan yang terukur.
Pendidikan harus menjadi prioritas. Kualitas sekolah dan pesantren harus terus ditingkatkan. Anak-anak Banten harus mendapatkan pendidikan terbaik sehingga mampu bersaing secara nasional bahkan internasional.
Ekonomi rakyat harus diperkuat. UMKM, pertanian, perikanan, industri kreatif dan ekonomi digital harus mendapatkan ruang berkembang.
Infrastruktur harus dibangun secara merata dan terintegrasi.
Kawasan industri harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Banten, bukan sekadar menghadirkan investasi.
Pariwisata harus dikembangkan dengan tetap menjaga lingkungan dan identitas budaya.
Dan yang tidak kalah penting, pembangunan harus menyentuh wilayah-wilayah yang selama ini masih tertinggal.
Banten maju bukan hanya ketika kawasan perkotaannya maju. Banten baru dapat disebut maju ketika seluruh rakyatnya merasakan kemajuan.
Dua Kecerdasan yang Harus Dimiliki Pemimpin
Pemimpin Banten membutuhkan setidaknya dua kecerdasan penting: kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan intelektual membuat seorang pemimpin mampu membaca persoalan secara objektif, memahami data, mengambil keputusan secara tepat, menyusun kebijakan yang efektif, serta menyelesaikan berbagai problematika pemerintahan dengan rasional dan terukur.
Tetapi kecerdasan intelektual saja belum cukup.
Seorang pemimpin juga membutuhkan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan spiritual membuat seseorang sadar bahwa kekuasaan bukan miliknya. Jabatan bukan miliknya. Kedudukan bukan miliknya.
Semuanya adalah titipan Allah.
Dengan kecerdasan spiritual, seorang pemimpin akan memiliki kejujuran, kerendahan hati, ketakwaan, kesabaran, keberanian, keadilan dan rasa takut kepada Allah.
Ia tidak mudah sombong ketika dipuji dan tidak mudah marah ketika dikritik.
Ia mampu berkata benar sekalipun tidak populer.
Ia berani mengambil keputusan yang benar sekalipun keputusan itu tidak selalu menyenangkan semua orang.
Dan yang paling penting, ia menyadari bahwa pada akhirnya setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Hadis ini sangat relevan bagi siapa pun yang memegang kekuasaan.
Pemimpin yang Berkarakter
Banten tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pintar.
Banten membutuhkan pemimpin yang berkarakter.
Sebab kecerdasan tanpa karakter dapat menjadi alat untuk kepentingan pribadi.
Kemampuan tanpa moral dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Kekuasaan tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan.
Karena itu, pemimpin Banten harus memiliki integritas.
Ia harus rendah hati ketika memiliki kekuasaan, bukan semakin angkuh.
Ia harus dekat dengan rakyat, bukan hanya dekat dengan orang-orang yang memiliki kepentingan.
Ia harus mampu mendengar sebelum berbicara.
Ia harus mampu melayani sebelum menuntut dilayani.
Ia harus mampu menghargai perbedaan tanpa kehilangan prinsip.
Dan ia harus mampu menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan kelompok dan kepentingan pribadi.
Banten Harus Membangun dengan Cepat, Tetapi Tetap Tepat
Banten tidak boleh terlalu lama berkutat pada persoalan yang sama.
Masyarakat membutuhkan hasil nyata.
Karena itu, kepemimpinan Banten harus memiliki sense of urgency—kesadaran bahwa waktu pemerintahan terbatas, sementara kebutuhan masyarakat terus berjalan.
Seorang pemimpin tidak boleh menghabiskan masa kepemimpinannya hanya untuk membuat rencana.
Perencanaan memang penting, tetapi perencanaan harus berujung pada pelaksanaan.
Banten membutuhkan pemimpin yang berpikir cepat, bekerja cepat, tetapi tidak gegabah.
Cepat dalam mengambil keputusan.
Cepat dalam menyelesaikan persoalan.
Cepat dalam memperbaiki pelayanan publik.
Cepat dalam membuka lapangan pekerjaan.
Cepat dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Cepat dalam membangun infrastruktur.
Namun semuanya tetap berdasarkan kajian, data, aturan, integritas dan kepentingan masyarakat.
Jangan Hanya Membangun Infrastruktur, Bangunlah Peradaban
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang gubernur bukan hanya berapa kilometer jalan yang dibangun atau berapa banyak gedung yang berdiri.
Ukuran keberhasilan yang lebih mendasar adalah:
Apakah masyarakat Banten menjadi lebih sejahtera?
Apakah anak-anak Banten mendapatkan pendidikan yang lebih baik?
Apakah angka kemiskinan menurun?
Apakah lapangan pekerjaan bertambah?
Apakah pelayanan publik semakin mudah dan cepat?
Apakah pesantren, sekolah, dunia usaha dan masyarakat memperoleh ruang berkembang?
Apakah generasi muda Banten semakin percaya diri menghadapi dunia?
Dan yang paling penting:
Apakah pembangunan itu melahirkan manusia Banten yang lebih berilmu, berakhlak, mandiri dan bermartabat?
Jika jawabannya ya, maka pembangunan itu bukan sekadar pembangunan fisik.
Itulah pembangunan peradaban.
Dirgahayu Banten
Di hari kelahiran Banten sebagai provinsi ini, mari kita tidak hanya mengucapkan selamat.
Mari kita menjadikannya sebagai momentum muhasabah dan harapan.
Kepada siapa pun yang mendapatkan amanah memimpin Banten, harapan masyarakat sesungguhnya sederhana:
Bangunlah Banten.
Majukanlah Banten.
Sejahterakanlah rakyat Banten.
Jangan sia-siakan waktu.
Jadilah pemimpin yang visioner dalam berpikir, cerdas dalam mengambil keputusan, kuat dalam bekerja, dan mulia dalam berakhlak.
Gunakan kecerdasan intelektual untuk menyelesaikan persoalan Banten.
Gunakan kecerdasan spiritual untuk memastikan bahwa setiap kebijakan tetap berada dalam koridor keadilan dan kemanusiaan.
Jadikan kekuasaan sebagai sarana pengabdian.
Jadikan jabatan sebagai jalan ibadah.
Jadikan rakyat sebagai pihak yang harus dilayani, bukan alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Sebab menjadi Gubernur Banten adalah kehormatan. Tetapi memimpin Banten adalah amanah.
Dan setiap amanah, pada waktunya, akan dimintai pertanggungjawaban.
Dirgahayu Banten!
Semoga Banten semakin maju, semakin sejahtera, semakin beradab, semakin berdaya saing, dan tetap menjadi tanah yang subur bagi lahirnya generasi yang cerdas intelektual, kuat spiritual, luhur akhlaknya, dan besar kontribusinya bagi Indonesia.
Banten bukan hanya tempat kita berpijak.
Banten adalah amanah yang harus kita bangun bersama.

