Oleh : Renna Aulia

Tepat 21 April 2020 kemarin, saya sedang berusaha mengingat kembali momentum hari Kartini semasa sekolah dulu. Rasanya hampir tidak pernah saya ikut merayakan hari Kartini dengan mengenakan kebaya di sekolah, lantas ikut bersolek dan berlagak layaknya model yang berjalan berlenggak-lenggok sembari di tonton oleh sejumlah guru pun murid lainnya.

Aneh sekali pikir saya hari ini, lantas menanyakan pada mamah untuk mengkonfirmasi kenapa tidak ada satu pun potret saya mengenakan kebaya? Dan yap! Jawab mamah sederhana sekali, “Kamu gak pernah mau di dandani, selalu marah kalau diminta memakai atribut ribet itu kamu bilang.” Mendengarnya saya pun terkekeh dan merasa aneh sendiri. Namun juga sedikit menyesali, karena tak pernah ada kenangan pada saya memperingati Kartini dengan bersolek dan mengenakan kebaya seperti kawan-kawan lainnya. Paling tidak kan saat ini saya punya list kenangan ‘aneh’ versi saya, yang mungkin bisa saya tertawakan di hari ini. Hehehe

Sedikitnya begitulah kenangan saya di hari Kartini. Namun saat beranjak dewasa saya mulai berpikir, mengapa sekolah-sekolah relatif merayakan hari Kartini dengan mengenakan pakaian adat ? Dan kenapa sekolah tidak memberi pemahaman lain tentang apa yang penting dari Kartini, bukan apa yang dipakainya, melainkan apa yang dipikirkannya?

Jika perayaan hari Kartini masih dengan cara serupa, lalu, bagaimana dengan kondisi dunia belakangan ini? Bagaimana cara sekolah mengedukasi murid2nya perihal Kartini ditengah-tengah pandemi kini?

Bukan kah seharusnya sekolah menjadi media pemaknaan pesan akan eksistensi sejarah sebagai pembelajaran di masa kini, mengenalkan bagaimana sosok RA Kartini pada masa perjuangannya. Seperti mengadakan lomba karya tulis bertemakan Kartini, atau mengadakan musikalisasi puisi dengan tema serupa, juga membuat pementasan teater yang berkisahkan perjuangan seorang Kartini. Andai dulu ada perlombaan seperti itu, rasanya saya akan mengikuti semuanya. Bukan untuk mendapatkan piala, lebih dari itu kesenangan saya bisa ikut berpartisipasi merayakan hari Kartini versi lain disekolah.

Makna perjuangan Kartini begitu luas, salah satunya pada era Kartini berjuang untuk perempuan-perempuan yang dulu terbelenggu oleh adat. Misalnya, dulu seorang perempuan tidak memiliki hak untuk bisa memperkaya diri, perempuan di tuntut tunduk dibawah tangan laki-laki. Kiprahnya seorang perempuan hanya boleh terlihat di dapur, kasur, dan sumur. Lantas, apakah di era sekarang perempuan masih berlaku demikian? Saya akui tentu saja masih. Namun, tidak sedikit juga perempuan-perempuan hebat lainya yang mulai mengembangkan diri untuk bisa sejajar derajatnya dengan laki2.

Menurut saya, memperingati hari Kartini adalah mengenang perjuangan beliau dan meneruskannya di masa kini. Hal yang dibawa oleh Kartini hingga kini tentu lah sebuah kata emansipasi, yang merupakan kesetaraan, kebebasan berpikir juga hal-hal kreatif lainnya yang hingga kini masih perlu diperjuangkan.

Esensi dari hari Kartini bagi saya ialah membuat pergerakan ke arah yang lebih maju dan menuju peradaban yang lebih baik. Jika demikian maka semangat perjuangan kartini dapat bertransformasi lintas jaman dan kondisi. Dari sini makna perjuangan Kartini menjadi sangat luas. Maka bagi saya, apabila ada yang berhasil berjuang untuk melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik maka perlu dikatakan Kartini.

Seperti saat ini, respect terbesar saya teruntuk kawan-kawan pejuang medis yang rela mengorbankan segala nya karena tetap berdiri di benteng pertahanan terakhir dalam memberi penanganan pada korban Covid-19. Hari ini mengingatkan bahwa perjuangan Kartini tidak dilihat dari seberapa bagus pakaian yang di pawaikan, namun dilihat dari siapa yang mengenakan APD juga siapa yang memiliki kesadaran untuk memutus rantai penyebab corona virus, jika bukan dari diri kita sendiri. Maka pemaknaan dari pada hari Kartini ada disetiap perjuangan yang tengah dialami oleh siapapun dan dalam kondisi apapun, dalam hal ini sebagai upaya berjuang menghadapi Covid-19.

Dari sekian banyaknya kasus beredar di media perihal pejuang medis di masa pandemi saat ini, salut dan hormat saya kepada para pejuang medis yang berani memasang badan, dan bertaruh nyawa. Bagi saya, mereka lah pemilik semangat dan inspirasi Kartini di masa-masa sulit ini. Tak sedikit jumlah perawat serta dokter yang telah gugur mengerahkan segala tenaga dan upaya demi memberikan penanganan pada korban Covid-19.

Terimakasih terdalam dari saya atas dedikasi teruntuk profesi dokter, perawat, bidan juga teruntuk kami semua yang telah memiliki kesadaran memutus rantai penyebaran Covid-19 tersebut. Terima kasih karena telah berjuang bersama untuk melewati pandemi ini. Dan terima kasih sudah mau menjadi Kartini di abad ini.

Saya mewakilkan perempuan-perempuan hebat lain juga sebagai bagian dari seluruh masyarakat dunia, turut berduka sedalam-dalamnya teruntuk kalian para pahlawan, para Kartini hari ini.

Salam Respect