JAKARTA (persepsi.co.id) – Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia, Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) menyelenggarakan Pelatihan Uji Laik Operasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Sistem Distance Learning) pada tanggal, 18 sampai dengan 19 Februari 2021.

Koordinator Penyelenggaraan dan Sarana Prasarana Pengembangan SDM Elin Lindiasari menyampaikan bahwa tujuan pelatihan ini untuk menghasilkan tenaga teknik ketenagalistrikan yang handal.

“Sehingga, dapat melaksanakan tugas pemeriksaan dan pengujian laik operasi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sesuai prosedur dan standar yang berlaku”,jelasnya

Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia KEBTKE Laode Sulaeman menyampaikan, bahwa pasti kita sudah sama-sama tahu beberapa tantangan dan kendala kita pada PLTS, bahwa kita sedang melakukan transformasi dari penggunaan energi fosil yang diatas 50%, kita geser perlahan kearah pemanfaatan gas dan memperbesar porsi dari renewable energi.

Jika diperkotaan mungkin tidak terlalu terasa tetapi ketika kita bicara pengembangan PLTS dipulau-pulau atau untuk menjawab energi terdapat tantangan tersendiri karna dengan menggunakan sistem pengembangan PLTS konvensional itu menyebabkan kebutuhan lahan yang signifikan,

“Seperti contoh, di pulau bagian Indonesia timur salah satu pulau yang direncanakan dibangun PLTS oleh PLN, tetapi tantangan utamanya adalah penyediaan lahan sehingga kemungkinannya tidak akan bisa dikembangkan secara menyeluruh di lokasi tersebut karna terbatasnya lahan”kata Laode.

Ia pun menyampaikan, bahwa di negara maju beberapa pembangunan PLTS dibuat dalam bentuk yang lebih kreatif dibangun diatas sungai, diatas permukaan laut, India membangun cincin PLTS, Rel kereta api untuk PLTS, sedangkan di negara kita memang masih konvensial dibangun diatas atap, kemudian PLTS komunal yang dibangun di lahan-lahan tetapi dalam fasilitas KW yang kecil.

“Nah, ini adalah tantangan kita ke depan bagaimana menjadikan PLTS bisa menjawab tantangan keterbatasan lahan. Khususnya diwilayah-wilayah kepulauan” jelasnya.

Masih kata Laode, maka dari itu perlu kita ketahui bahwa Indonesia memiliki banyak wilayah kepulauan dan sebagian besar wilayah kepulauan tersebut belum dialiri listrik, kita juga masih menunggu inovasi-inovasi berikutnya agar kita dapat memberikan kontribusi yang lebih besar untuk melayani rekan-rekan kita yang belum mendapatkan listrik.

“Salah satu tantangan kita kedepannya, bagaimana menguatkan daya saing nasional, tentunya sebagai negara anggota World Trade Organization (WTO). Kita tidak bisa lagi membuat aturan yang membatasi ketentuan atau masuknya tenaga kerja asing, yang bisa kita lakukan adalah memperkuat sumber daya manusia kita di dalam negeri, agar mampu bersaing dengan arus tenaga kerja asing”jelas Laode.

Lanjut Laode, Konsideran tersebut juga bisa menjadi hal yang perlu dipertimbangkan, perlu kita sosialisasikan terus kepada masyarakat. Bahwa salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk menghambat globalisasi masuk adalah dengan memperkuat daya saing dan menambahkan kemampuan kapasitas, kepada sumberdaya manusia di dalam negeri.

“Sebab, PLTS merupakan salah satu moda renewable energy yang paling cepat pertumbuhanya di seluruh dunia, mulai dari Jepang, Cina, dan negara timur tengah yang mataharinya panas. Yang mana, mereka walaupun sudah menghasilkan energy fosil yang cukup besar, tetapi sekarang juga sudah mulai berlomba-lomba beralih memanfaatkan PLTS, ini juga suatu kenyataan kalau kita tidak memanfaatkan energi matahari kita dengan sungguh-sungguh, maka kita akan ketinggalan dari negara-negara tersebut”tutup Laode. (SA).