Cilegon, (persepsi.co.id) – Rabeg merupakan masakan tradisional yang berasal dari Banten perpaduan bumbu khas Jazirah Arab dan Banten, yang terbuat dari daging kambing dengan olahan berbagai bumbu.

 

Dulu, rabeg merupakan makanan yang hanya dimakan untuk kesultanan Banten saja, namun kini kelezatannya bisa dinikmati seluruh kalangan masyarakat.

 

Dalam rangka memperkenalkan dan promosi Rabeg sebagai makanan khas serta bagian dari usaha kuliner yang masuk dalam ketegori UMKM, sehingga Pemkot Kota Cilegon perlu mengadakan sajian rabeg sebanyak 2500 porsi yang akan dihidangkan di Halaman Pemkot Cilegon.

 

Selain itu, jumlah sajian rabeg tersebut akan didaftarkan di Musium Rekor Republik Indonesia (MURI) untuk dunia.

 

Sebagaimana Diketahui, Rabeg makanan khas Banten khususnya Serang dan Cilegon, seperti Rawon dari Jawa Timur dan Tengkleng dari Solo.

 

“Rawon pernah disajikan untuk puluhan ribu orang, dan bahkan tengkleng pernah disajikan untuk jutaan orang. Mengapa rabeg hanya dengan dua ribu lima ratus porsi belum seperempatnya dari jumlah ASN di Cilegon dapat Muri dunia?,” tanya Edi Muhdi Zein. Minggu, 7 Mei 2023.

 

Menurutnya, untuk ukuran Walikota Cilegon, idealnya mampu menyajikan makan Rabeg sepanjang satu kilometer dari lampu merah Pemkot Kota Cilegon hingga rumah dinas walikota atau sampai lampu merah Matahari lama.

 

Edi juga menyampaikan, dengan pengerahan masa dan kekuatan pemda serta dukungan industri, Pemkot Cilegon pasti bisa melakukannya. “Dengan rute Pemkot rumah dinas walikota tersebut, selain memberi makan fakir miskin, dimana jalan dari rumah dinas hingga kantor walikota tersebut setiap hari pasti dilalui walikota,” ucap Edi.

 

Ia menjelaskan, jika target rute Pemkot sampai dengan rumah dinas tersebut, orang lain belum ada yang melakukannya, bahkan orang lain mungkin tidak mampu melakukannya. Sehingga hal tersebut memilki beberapa manfaat. Manfaat pertama sedakoh, manfaat kedua pembauran masyarakat industri, ASN, pejabat dan rakyat jelata. Manfaat ketiga menggerakkan dan menghidupkan ekonomi rakyat dan manfaat yang keempat mempunyai nilai promosi yang tinggi.

 

“Tetapi jika target walikota hanya dua ribu lima ratus, terlalu kecil, tidak sebanding dengan buanyaknya ASN dan tenaga honorer yang ada di kota Cilegon. Seperti perbandingan orang membuat HP sebagai industri rumahan, kita masih bangga dengan membuat cangkul sebagai industri rumahan,” cetusnya.

 

Lanjut Edi, dengan perbandingan tersebut, muncul pertanyaan. Dimana peningkatan SDM Kota Cilegon.

 

“Semoga piagam Muri yang didapat nantinya, tidak dianggap anak cucu kita kelak sebagai simbol kedunguan dan pembohong,” harapnya.