Oleh: Lucky Prasetiawan Sutanto
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)

Dunia kerja Indonesia saat ini sedang mengalami perubahan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar perubahan teknologi. Perubahan tersebut tidak hanya terdampak oleh digitalisasi maupun artificial intelligence (AI) tetapi perubahan ini akibat pergeseran karakter tenaga kerja yang kini di dominasi oleh Generasi Milenial dan Generasi Z. Kedua generasi ini membawa dan mempunyai pola pikir baru yang secara perlahan mengubah definisi tentang karier, loyalitas kerja, hingga makna produktivitas itu sendiri.

Sebagai praktisi yang bekerja di bidang ketenagakerjaan sekaligus mahasiswa Magister Manajemen, penulis melihat bahwa perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan fenomena sosial-ekonomi dalam ketenagakerjaan yang akan menentukan arah masa depan dunia kerja di Indonesia. Baik perusahaan, institusi pemerintah, sampai dengan pelaku usaha individu perlu memahami bahwa karakter generasi muda saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) di jelaskan bahwa Generasi Z adalah orang atau pekerja lahir pada tahun 1997–2012 atau mencapai sekitar 27,94% dari populasi Indonesia, sedangkan Generasi Milenial adalah orang atau pekerja yang lahir pada tahun 1981–1996 atau mencapai sekitar 25,87 persen dari populasi Indonesia. Melihat demografi tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa lebih dari separuh penduduk Indonesia berasal dari dua generasi tersebut. Dalam beberapa tahun ke depan, struktur pasar tenaga kerja di Indonesia akan sepenuhnya didominasi oleh mereka.

Namun menariknya, dominasi jumlah tersebut tidak otomatis diikuti oleh cara pandang pengusaha maupun perusahaan terhadap dunia kerja, padahal Generasi Milenial dan Generasi Z justru menunjukkan bagaimana generasi memiliki karakter yang unik dalam menghadapi tekanan ekonomi, perkembangan teknologi, serta ekspektasi terhadap perusahaan.

Melihat karakteristiknya, Generasi Z tumbuh sebagai generasi yang sejak kecil telah menggunakan internet, media sosial, dan arus informasi yang cepat. Mereka lebih cepat beradaptasi terhadap teknologi, terbuka terhadap keterbukaan informasi, fleksibel, dan cenderung mengutamakan kebebasan dalam bekerja. Sementara itu, Generasi Milenial merupakan generasi transisi yang mengalami perpindahan dari era analog menuju digital sehingga memiliki kombinasi antara pola pikir yang konvensional tetapi memiliki kemampuan adaptasi teknologi modern.

Perbedaan karakter di atas terlihat jelas dalam pola kerja. Gen Z lebih menyukai sistem kerja fleksibel seperti work form home atau work from anywhare. Mereka menilai produktivitas tidak lagi diukur dari durasi duduk di kantor, melainkan dari hasil kerja yang dihasilkan. Di sisi lain, Generasi Milenial cenderung lebih realistis dan stabil secara emosional dalam karier karena sebagian besar sudah memasuki fase membangun keluarga dan menghadapi tuntutan ekonomi yang lebih besar.

Fenomena terkait karakter tersebut diperkuat oleh berbagai survei global dari Deloitte dan IDN yang menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia kini menempatkan kesejahteraan mental dan work life balance, serta peluang pengembangan diri sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan. Bahkan, banyak dari mereka rela berpindah perusahaan tempat mereka bekerja apabila merasa tidak berkembang atau mengalami tekanan kerja berlebihan. Bagi pekerja generasi ini, kesehatan mental lebih baik ketimbang kesehatan keuangan.

Dalam perspektif ketenagakerjaan, fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemilik usaha. Di satu sisi, perusahaan menghadapi bagaimana tingkat turnover yang lebih tinggi karena generasi muda yang merasa tidak cocok dengan cara kerja dan budaya perusahaan tidak lagi bertahan hanya demi status memiliki pekerjaan dan uang namun di sisi perusahaan juga memiliki kesempatan untuk melakukan transformasi terhadap budaya kerja yang lebih sehat, produktif, dan melihat output sebagai hasil kinerja.

Menariknya fenomena di atas, generasi millenial dan Z saat ini tidak lagi memandang kesuksesan hanya sebatas kenaikan jabatan atau posisi yang lebih tinggi dalam perusahaan tetapi mereka lebih menekankan pentingnya pembelajaran, pengembangan keterampilan, dan keberlanjutan karier jangka panjang. Sehingga kesadaran untuk terus belajar menjadi semakin tinggi karena mereka memahami bahwa dunia kerja berubah sangat cepat dan kemampuan adaptasi lebih penting dibanding sekadar ijazah formal.

Dalam konteks yang lain bahwa terdapat perubahan terkait teknologi yang memanfaatkan AI, hal ini justru tidak sepenuhnya dianggap sebagai ancaman. Banyak generasi millenial dan Z melihat AI sebagai alat bantu produktivitas sekaligus peluang baru dalam dunia kerja. Namun demikian, mereka juga menyadari bahwa keterampilan manusia seperti komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, empati, dan kemampuan membangun relasi tetap menjadi aspek yang tidak mudah tergantikan oleh teknologi.

Pada era sekarang ini perusahaan mulai fokus mengejar otomasi dan efisiensi berbasis teknologi karena bahan baku terkadang teradmpak tekanan ekonomi global seperti perang maupun harga dollar meningkat, di sisi lain generasi muda justru semakin menekankan pentingnya aspek manusia dalam dunia kerja. Mereka ingin didengar, dihargai, serta diberi ruang berkembang sebagai individu. Tetapi prakteknya masih banyak perusahaan di Indonesia yang mempertahankan pola manajemen birokratis dan terkesan kaku sehingga hubungan antara atasan dan bawahan masih sering berlangsung secara satu arah tanpa ruang komunikasi yang sehat.

Kondisi ini memiliki korelasi mengapa tingkat loyalitas kerja Generasi Z relatif lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Mereka tidak segan meninggalkan perusahaan apabila budaya kerja dianggap toxic, tidak sehat, atau tidak sesuai dengan nilai pribadi mereka.

Berbeda dengan generasi terdahulu yang cenderung bertahan demi “rupiah”, tetapi Generasi Z lebih berani mengambil risiko demi kesehatan mental dan kualitas hidup.
Selain faktor budaya kerja, dalam survei Deloitte Global 2025 Generasi Z dan Milenial di sebutkan bahwa faktor tekanan ekonomi biasanya dapat menjadi penyebab perubahan perilaku generasi muda untuk beradaptasi dalam mengelola keuangan. Kenaikan biaya hidup membuat kedua generasi memiliki gaya masing-masing dalam mengelola finansial.

Contohnya, Generasi Milenial lebih fokus terhadap stabilitas keuangan dengan tetap bekerja di tengah ketidaknyaman lingkungan kerja, sedangkan Generasi Z aktif mencari usaha sampingan, investasi, hingga peluang bisnis digital sebagai strategi bertahan hidup.

Melihat perilaku yang timbul, fenomena usaha sampingan atau pekerjaan tambahan menjadi sangat relevan di Indonesia, banyak tercermin dengan pekerja kantoran masih menjadi driver ojek online, jualan barang melalui affiliet atau bermain trading saham. Kenaikan pekerja paruh waktu menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja memang semakin meningkat, tetapi di sisi lain juga menggambarkan adanya kesulitan akses atau budaya yang kaku di pekerjaan formal. Banyak anak muda akhirnya memilih jalur freelance, ekonomi kreatif, content creator, affiliate marketing, atau bisnis digital karena dianggap lebih fleksibel dan memiliki peluang pendapatan lebih cepat dibanding jalur karier konvensional.

Di lain hal, sebagai institusi yang bergerak dalam perlindungan tenaga kerja, BPJS Ketenagakerjaan juga menghadapi tantangan adaptasi terhadap perubahan pola kerja ini. Ke depan, perlindungan sosial ketenagakerjaan perlu semakin adaptif terhadap munculnya pekerja informal yang tidak memiliki office atau ruangan kerja atau bisa di sebut pekerja ekonomi digital yang jumlahnya terus meningkat.

Pada akhirnya, Generasi Z dan Milenial sebenarnya bukan ancaman bagi dunia kerja, melainkan agen perubahan. Mereka memaksa perusahaan melakukan evaluasi terkait budaya kerja lama yang cenderung hirarki menuju budaya kerja yang lebih fleksibel dan berorientasi pada work life balance. Perubahan ini memang sering dianggap sebagai bentuk “kurang loyal” atau “terlalu idealis pada generasi tertentu” Namun jika dilihat lebih dalam, generasi muda saat ini sebenarnya sedang berusaha membangun definisi baru tentang cara bekerja yang baru, bekerja secara produktif tanpa kehilangan kualitas hidup dan kesehatan mental.

Generasi Z dan Milenial sedang mengajarkan satu hal penting kepada dunia kerja Indonesia bahwa produktifitas tidak harus mengorbankan waktu. Jika perusahaan mampu memahami perubahan ini maka masa depan dunia kerja Indonesia justru berpotensi menjadi lebih sehat terhadap jam kerja dan peningkatan produktifitas