Penulis : Abu Nawir, S.Pd (Guru SMP Negeri 3 Labakkang)
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mulai diajarkan pada tahun 2007 di kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Banyak hal yang dapat diperoleh oleh siswa khususnya bagi para siswa yang berasal dari golongan menengah kebawah karena tidak memiliki perangkat komputer atau laptop. Dengan adanya materi TIK, maka siswa tersebut sangat terbantu, mereka belajar mengoperasikan perangkat komputer.
Untuk mengikuti kursus pembelajaran komputer membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dengan hadirnya mata pelajaran TIK disekolah maka siswa yang berasal dari golongan menengah kebawah sangat-sangat terbantu untuk mempelajari komputer. Namun sejak kurikulum 2013 diterapkan mata pelajaran TIK tidak lagi menjadi matapelajaran hal itu merupakan suatu ironi dimana penerapan teknologi yang semakin berkembang dengan sangat cepat justru mata pelajaran TIK yang sejatinya memperkenalkan kepada siswa tentang teknologi justru malah dihilangkan dari pendidikan.
Lalu apa dampaknya dari penghapusan mata pelajaran TIK ini? Dampak nyata yang sangat terasa bagi siswa saat pemerintah mulai menerapkan Asesmen Kompetensi Minimum, dimana siswa yang sehari-harinya hampir tidak pernah bersentuhan langsung dengan komputer tiba-tiba langsung dihadapkan dengan komputer untuk sebuah Asesment sebagai pengganti Ujian Nasional. Ok lah kalau sekolah-sekolah besar yang berada di kota dengan peserta didik yang menengah keatas mungkin penggunaan komputer ini bukanlah suatu yang asing bagi mereka. Lalu bagaimana dengan siswa-siswi yang berada di pelosok, Sebagai contoh sekolah kami yang berada di daerah pesisir dimana peserta didiknya rata-rata tidak memiliki komputer/laptop terdapat pula beberapa peserta didik yang berasal dari pulau sehingga sangat kewalahan soal mengoperasikan komputer.
Lalu bagaimana siswa bisa mengikuti perkembangan teknologi yang semakin hari semakin berkembang? Alih-alih TIK dapat diintegrasikan ke semua mata pelajaran namun kenyataannya masih banyak pendidik diseluruh Indosesia khususnya di daerah-daerah yang justru tidak melek teknologi alias Gaptek. Lalu apa yang biasa diharapkan oleh siswa-siswi kita, haruskah ini terus berlarut-larut tanpa penyelesaian?
Akhirnya muncul solusi untuk menjadikan mata pelajaran TIK itu menjadi sebuah bimbingan TIK disekolah-sekolah. Adapun pelaksanaannya diluar jam pelajaran bagi sekolah-sekolah yang memiliki guru TIK. Lalu bagaimana dengan sekolah-sekolah yang tidak memiliki guru TIK?
Namun kenyataannya itupun tidak dapat berjalan dengan efektif hal itu disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari ketidakjelasan kurikulum dalam bimbingan TIK begitupun juknis pelaksanaannya yang diserahkan ke sekolah masing-masing sehingga terdapat beberapa sekolah yang tidak menerapkan bimbingan TIK ini sama sekali dengan dalih peralatan maupun SDM yang tidak memungkinkan diadakannya bimbingan TIK ini di sekolah tersebut.
Merujuk dari permasalahan diatas maka kami selaku guru TIK berharap ada kejelasan tentang mapel TIK dalam kurikulum yang diatur langsung oleh pemerintah sehingga ada keseragaman tentang pembelajaran TIK di sekolah. Agar perkembangan teknologi yang semakin berkembang dengan pesat dapat dibarengan dengan sumber daya manusia yang handal. Demikian harapan dari kami, Salam Pendidikan.



