BANTEN, (persepsi.co.id) – Setelah sukses dengan buku perdananya yang berjudul Macan Putih. Melangkah diantara Luka dan Harapan yang mendapat sambutan luas, tokoh nasional H. Sudarto Adinagoro kembali menghadirkan karya keduanya berjudul Seni Berpikir, Bertindak, dan Memimpin di Dunia yang Berubah. Buku ini hadir bukan sekadar menambah khazanah literasi, tetapi juga sebagai refleksi mendalam tentang

kepemimpinan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan kompleks.

Menurut Sudarto Adinagoro, menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya.

 

“Berkarya melalui buku memiliki kepuasan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan materi. Buku pertama Macan Putih mendapat respons yang baik, dan itu menjadi motivasi saya untuk terus menulis,” ungkapnya diselasela kesibukannya sebagai Ketua Pengprov PBSI Banten serta Koordinator Wilayah

PP PBSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Komjen Pol M. Fadil Imran, dan

aktivitasnya di sektor industri tambang PT Citra Palu Mineral.

Namun, lanjut Sudarto Adinagoro, buku kedua memiliki dimensi yang lebih dalam. Karya kedua tersebut lahir dari refleksi pribadi penulis di usia 51 tahun, sebuah fase di mana hidup tidak lagi hanya

dipandang dari apa yang dicapai, tetapi dari apa yang dapat diberikan.

 

Dari perenungan tersebut, muncul keinginan sederhana: berbagi pengalaman, pemikiran, dan nilai yang selama ini ia pegang. Filosofi buku ini berakar dari makna nama “Sudarto” itu sendiri.

 

Bagi penulis, nama

tersebut bukan sekadar identitas, melainkan arah hidup—yang dimaknai sebagai pribadi yang teguh dan bertanggung jawab dalam pengabdian yang unggul.

 

Menurut Sudarto Adinagoro, dari

pemaknaan inilah lahir sebuah kerangka kepemimpinan yang kemudian ia rumuskan sebagai SDR (Synergy, Dedication, Resilience).

Synergy dimaknai sebagai kemampuan merajut perbedaan menjadi kekuatan

bersama. Dedication sebagai komitmen pengabdian untuk memberikan yang terbaik, dan Resilience sebagai keteguhan untuk tetap berdiri di tengah tekanan dan

perubahan.

 

Ketiga nilai ini, lanjut Sudarto Adinagoro, kemudian diterjemahkan dalam buku menjadi tiga

dimensi utama kepemimpinan: berpikir (nalar), bertindak (nyali), dan memimpin (nurani) —yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan.

Menariknya, buku ini juga mendapatkan pengantar dari Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. H. Wiranto, yang menegaskan bahwa tantangan kepemimpinan hari ini bukan hanya soal strategi atau teknologi, tetapi tentang kualitas manusia yang memimpin. Pesan tersebut menjadi penguat bahwa ditengah dunia yang berubah cepat,

kepemimpinan tetap harus berakar pada nilai dan kemanusiaan.

Melalui buku setebal 132 halaman ini, Sudarto Adinagoro berharap dapat memberikan wacana bagi para pemimpin, calon pemimpin, serta generasi muda agar memiliki literasi

kepemimpinan yang lebih utuh.

 

“Saya tidak bermaksud menggurui. Buku ini adalah bentuk rasa syukur dan upaya berbagi, semoga bisa menjadi bahan refleksi bagi siapa pun yang membacanya,” ujarnya.

Diterbitkan oleh Widina Media Utama, buku ini diharapkan dapat kembali mendapat sambutan positif dari masyarakat, sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam membangun cara berpikir dan kepemimpinan yang lebih bijaksana di era perubahan.***