SERANG,(persepsi.co.id)– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mengambil langkah strategis dalam memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit kusta serta frambusia melalui pelatihan intensif yang digelar selama lima hari, mulai Senin (22/6/26) hingga Jumat mendatang di Hotel Forbis, Kabupaten Serang.
Kegiatan yang diikuti para pemegang program kusta dari seluruh puskesmas tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, khususnya dalam melakukan deteksi dini, surveilans, serta tata laksana pengobatan penyakit yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.
Langkah ini dilakukan menyusul masih ditemukannya kasus kusta aktif di Kabupaten Serang. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, saat ini terdapat 211 penderita kusta yang masih menjalani pengobatan di berbagai wilayah.
Jumlah tersebut menjadi perhatian serius karena tidak hanya menunjukkan masih adanya penularan di masyarakat, tetapi juga mengindikasikan perlunya penguatan sistem deteksi dini agar kasus dapat ditemukan sebelum menimbulkan kecacatan permanen.
Yang lebih mengkhawatirkan, dari total kasus yang ada, sebanyak 11 kasus ditemukan pada anak anak. Temuan ini menjadi indikator bahwa rantai penularan penyakit masih berlangsung di lingkungan masyarakat dan belum sepenuhnya terputus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, dr. H. Efrizal, MARS, menjelaskan bahwa kusta merupakan penyakit yang memiliki masa inkubasi panjang sehingga sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal.
Menurutnya, munculnya kasus baru yang sudah disertai kecacatan serta ditemukannya penderita pada kelompok usia anak menjadi sinyal bahwa proses penemuan kasus di lapangan masih perlu ditingkatkan.
“Penemuan kasus baru yang disertai kecacatan menunjukkan bahwa deteksi dini masih belum optimal. Artinya pasien ditemukan ketika penyakit sudah berkembang cukup lama. Begitu pula dengan adanya 11 kasus pada anak-anak. Ini menjadi alarm bahwa penularan masih terjadi di masyarakat dalam waktu yang cukup panjang,” ujar Efrizal.
Ia menegaskan, kusta sejatinya dapat disembuhkan apabila ditemukan lebih awal dan segera mendapatkan pengobatan yang tepat. Karena itu, kemampuan tenaga kesehatan di tingkat pelayanan dasar menjadi faktor penting dalam memutus mata rantai penularan.
Melalui pelatihan refreshment tersebut, Dinkes Kabupaten Serang memberikan pembaruan pengetahuan dan keterampilan kepada para petugas kesehatan yang menjadi ujung tombak penanganan kusta di lapangan.
Dari total 31 puskesmas yang ada di Kabupaten Serang, sebanyak 30 puskesmas mengirimkan perwakilan untuk mengikuti pelatihan. Sementara satu puskesmas lainnya telah memperoleh pelatihan serupa sebelumnya.
Efrizal menekankan bahwa keberhasilan pengendalian kusta tidak dapat dibebankan hanya kepada pemegang program kusta. Dibutuhkan kolaborasi lintas program dan lintas profesi di fasilitas kesehatan agar penemuan kasus dapat dilakukan lebih cepat dan menyeluruh.
“Pemegang program berfungsi sebagai koordinator di lapangan. Namun keberhasilan penanganan kusta membutuhkan dukungan dokter puskesmas, petugas kesehatan anak, petugas kesehatan ibu dan anak (KIA), serta seluruh tenaga kesehatan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat,” katanya.
Kolaborasi tersebut dinilai penting mengingat gejala awal kusta kerap tidak disadari masyarakat. Dengan keterlibatan seluruh tenaga kesehatan, peluang menemukan kasus sejak dini akan semakin besar sehingga risiko kecacatan maupun penularan dapat ditekan.
Selain fokus pada kusta, pelatihan juga membahas pengendalian frambusia, penyakit infeksi kronis yang masih menjadi perhatian dalam program pengendalian penyakit menular tropis.
Melalui pelatihan komprehensif selama lima hari ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Serang berharap seluruh puskesmas memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan surveilans, penemuan kasus aktif, penanganan pasien, hingga edukasi kepada masyarakat.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Serang untuk menekan angka penularan, mencegah munculnya kasus kecacatan baru, serta mewujudkan target eliminasi kusta melalui pelayanan kesehatan yang lebih responsif dan terintegrasi hingga tingkat masyarakat.(Adv)



