persepsi.co.id || Kuda Lumping juga disebut Jaran kepang atau Jathilan adalah tarian tradisional yang berasal Ponorogo Jawa Timur. Kesenian tradisional kini bukan hanya sarana hiburan masyarakat di pedesaan yang ada di Jawa Timur, namun sudah menyebar bukan hanya di Pulau Jawa, namun sudah menyebar ke berbagai daerah lain di Indonesia.

Pertunjukan kesenian tradisional Kuda Lumping biasanya dimulai dengan pemberian mantra-mantra kepada para penari kuda lumping, dan memulai gerakan layaknya pasukan berkuda yang sedang berlaga di medan pertempuran. Bahkan layaknya orang kerasukan, para penari sering kali melakukan hal-hal ekstrim seperti memakan pecahan kaca, menyayat anggota badannya dengan senjata tajam dan hal lainnya yang membuat penonton sedikit ketakutan namun penasaran untuk terus mengikuti atraksi-atraksi yang dipertunjukan oleh para penari Kuda Lumping yang terbuat dari anyaman bambu, kulit kerbau ataupun kulit sapi.

Apa yang dilakukan oleh para penari Kuda Lumping, merupakan simbol-simbol perjuangan masyarakat pada masa kerajaan. Purwadi Soeriadiredja dalam Fenomena Kesenian Dalam Studi antropologi menjelaskan bahwa manusia sesungguhnya memperoleh pengetahuan mengenai simbol-simbol. Simbol adalah hasil abstraksi dari proses berpikir dan belajar.

Dikatakan demikian karena manusia dengan kemampuannya, dapat berpikir secara abstrak. Selain itu manusia adalah makhluk yang dapat berpikir secara kompleks dan konsepsional, serta menyadari akan dimensi waktu pada masa yang lampau, sekarang dan masa yang akan datang.

Berpikir pada manusia erat hubungannya dengan kemampuannya untuk menggunakan simbol, yaitu suatu kemampuannya untuk memberikan arti yang hampir tak terbatas kepada berbagai gejala. Peristiwa atau pada obyek-obyek material yang ada dalam lingkungan hidupnya. Hal tersebut dimungkinkan karena yang dapat dipelajari secara sosial adalah pengertian-pengertian abstrak yang dapat dinyatakan dan diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol.

Simbol bukanlah satu-satunya hal yang dapat menggambarkan suatu gejala. Untuk menggambarkan sesuatu dapat pula digunakan tanda (sign). Adapun yang dimaksud dengan tanda ialah suatu unsur dalam persekutuan alam yang berlaku sebagai “tanda” dengan cara mengalihkan perhatian kepada unsur alam yang lain. Tanda mempunyai pertalian alamiah tertentu dan tetap dengan apa yang ditandai. Misalnya, jika ada asap di sana ada api, asap merupakan tanda adanya api.

Dengan demikian simbol merupakan komponen utama perwujudan kebudayaan, karena setiap hal yang dilihat dan dialami oleh manusia itu sebenarnya diolah sebagai serangkaian simbol-simbol yang dimengerti oleh manusia. Sehubungan dengan itu Geertz (1966:85) menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah suatu sistem pengetahuan yang mengorganisasikan simbol-simbol.

Ada banyak aneka ragam kesenian tradisional Kuda Lumping. Pemerintah bahkan sudah mendata setidaknya ada 19 seni tradisi kuda lumping. Tiga diantaranya Jaran Kecak dari Lumajang, Jaran Bodhag dari Probolinggo dan Jathilan dari Yoyakarta sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Pemerintah seringkali abai dan lalai dalam melestarikan seni budaya yang ada di Indonesia, dan kurang memperhatikan para seniman yang terlibat didalamnya. Untuk mempertahankan hidup, tak jarang para seniman kuda lumping harus keliling dari kampung ke kampung sekedar mengharapkan saweran warga. Padahal negara tetangga Malaysia begitu mengagungkan kesenian ini, bahkan konstestan Malaysia dalam ajang Miss Grand Internasional 2017 dengan bangga mengenakan kostum yang biasa digunakan oleh para seniman Kuda Lumping.