SERANG,(persepsi.co.id)- Musim kemarau yang mulai dirasakan sejak akhir Mei hingga 10 Juli 2026 menyebabkan ribuan hektare tanaman padi di Provinsi Banten terdampak kekeringan. Berdasarkan hasil monitoring Dinas Pertanian Provinsi Banten, luas lahan yang mengalami kekeringan mencapai 1.139 hektare yang tersebar di Kabupaten Pandeglang, Serang, Tangerang, dan Lebak.

Dari total luasan tersebut, sekitar 937 hektare mengalami kerusakan ringan, 117 hektare kerusakan sedang, dan 85 hektare kerusakan berat. Sebagian lahan telah berhasil dipulihkan melalui turunnya hujan dan upaya mitigasi, sementara sebagian lainnya telah memasuki masa panen. Namun demikian, masih terdapat sekitar 320 hektare lahan yang berpotensi terdampak apabila kondisi kekeringan terus berlanjut.

Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir, mengatakan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan secara intensif melalui petugas lapangan serta memperkuat langkah mitigasi agar kerusakan tidak berkembang menjadi puso.

“Kami terus melakukan monitoring di seluruh wilayah terdampak bersama petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), penyuluh pertanian, dan kelompok tani. Fokus kami saat ini adalah menyelamatkan tanaman yang masih bisa dipertahankan agar produktivitas tetap terjaga,” kata Nasir.

Kabupaten Pandeglang menjadi daerah dengan luas kekeringan terbesar mencapai 593 hektare, disusul Kabupaten Serang 451 hektare, Kabupaten Tangerang 81 hektare, dan Kabupaten Lebak 14 hektare.

Di Pandeglang, wilayah paling terdampak berada di Kecamatan Munjul dan Angsana. Sementara di Kabupaten Serang, kondisi cukup serius terjadi di Kecamatan Jawilan, Kopo, Pamarayan, Bandung, Tunjungteja hingga Tanara.

Menurut hasil monitoring lapangan, penyebab utama kekeringan antara lain tidak turunnya hujan selama beberapa hari, minimnya sumber air karena sebagian besar sawah merupakan lahan tadah hujan, debit sungai yang mulai menurun, hingga jauhnya sumber air dari lokasi persawahan sehingga menyulitkan proses pompanisasi.

Nasir menjelaskan berbagai langkah penanganan telah dilakukan sejak sebelum musim kemarau tiba. Salah satunya dengan mendorong petani menanam varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan seperti Inpari 32, mengatur pola tanam sesuai kalender iklim, serta memanfaatkan sistem tumpang sari pada wilayah tertentu.

Saat kondisi kekeringan berlangsung, Dinas Pertanian juga mengoptimalkan pompanisasi dengan memanfaatkan sumber air yang masih tersedia.

Namun demikian, di lapangan masih ditemukan sejumlah kendala, terutama keterbatasan panjang selang dan semakin menurunnya debit sungai sehingga distribusi air ke lahan pertanian belum maksimal.

“Kami terus berkoordinasi dengan penyuluh, POPT, kelompok tani, pemerintah kabupaten hingga pemerintah desa agar kebutuhan pompa, selang, maupun bahan bakar dapat dipenuhi sesuai kondisi di lapangan,” ujar Nasir.

Di sejumlah lokasi seperti Kecamatan Petir dan Tirtayasa, pompanisasi telah dilakukan. Bahkan UPTD BPTPHP telah meminjamkan selang tambahan kepada kelompok tani. Meski demikian, masih diperlukan penambahan panjang selang agar air mampu menjangkau petakan sawah yang berada jauh dari sumber air.

Sementara untuk wilayah sawah tadah hujan seperti Kecamatan Bandung dan sebagian Jawilan, solusi jangka pendek masih sangat bergantung pada turunnya hujan karena lokasi persawahan berada sekitar tiga kilometer dari jaringan irigasi.

Untuk jangka panjang, Dinas Pertanian mendorong pembangunan sumur dalam melalui sinergi pemerintah desa, kabupaten, dan provinsi agar ketahanan air pertanian semakin kuat saat musim kemarau.

Selain itu, koordinasi dengan penyedia benih juga telah dilakukan guna memastikan ketersediaan stok apabila terjadi puso sehingga petani dapat segera melakukan penanaman kembali.

Nasir menegaskan bahwa pemerintah akan terus meningkatkan koordinasi lintas sektor agar dampak kekeringan terhadap produksi pangan di Provinsi Banten dapat ditekan semaksimal mungkin.

“Kami ingin memastikan petani tetap mendapat pendampingan. Selama masih ada peluang penyelamatan tanaman, seluruh jajaran akan terus bekerja di lapangan. Ketahanan pangan harus tetap kita jaga bersama,” pungkas Nasir.(Adv)