SERANG – Pandemi COVID-19 adalah peristiwa menyebarnya Penyakit koronavirus 2019 (bahasa Inggris: coronavirus disease 2019, singkatan dari COVID-19) di seluruh dunia.
Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada tanggal 1 Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. Hingga 17 September 2020, lebih dari 29.864.555 orang kasus telah dilaporkan lebih dari 210 negara dan wilayah seluruh dunia, mengakibatkan lebih dari 940.651 orang meninggal dunia dan lebih dari 20.317.519 orang sembuh.
Di Indonesia sendiri, dilihat dari website satuan tugas penanganan Covid -19 sampai hari ini 18 November 2020 kasus covid-19 yang Positif 478.720 dimana Sembuh 402.347 , meninggal akibat Covid -19 15.503.
Untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini, melalui pemerintahan menyampaikan kunci pokok utama penanganan covid-19 yaitu 3M dan 3T. Dimana 3 M ialah Memakai masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan pakai sabun) praktik 3T (Tracing, Testing, Treatment) dengan dukungan semua lapisan masyarakat. 3M dan 3T adalah satu paket upaya yang tidak dapat dipisahkan untuk memutus rantai penularan COVID-19.
Akibat Covid-19 ini memberikan dampak yang terlihat nyata dalam berbagai bidang yaitu di antaranya ekonomi, sosial, pariwisata, dan pedidikan. Pelaksanaan pendidikan di Indonesia dalam masa pandemi Covid-19 mengalami beberapa perubahan yang terlihat nyata.
Namun, akibat pandemi ini, proses belajar mengajar dilakukan dengan daring untuk mencegah penyebaran covid-19. Disamping itu pengajar dan pelajar mengalami permasalahan. Dimana pelajar kesulitan masalah jaringan, kurangnya pelatihan, dan kurangnya kesadaran dinyatakan sebagai tantangan utama yang dihadapi oleh pengajar.
Kurangnya kesadaran dinyatakan sebagai alasan paling penting oleh mereka yang tidak mengadopsi pembelajaran daring diikuti oleh kurangnya minat dan keraguan tentang kegunaan pembelajaran daring. Kurang kehadiran, kurangnya sentuhan pribadi, dan kurangnya interaksi karena masalah konektivitas ditemukan menjadi kelemahan signifikan dari pembelajaran daring.
Adanya sistem pembelajaran online, tentu waktu yang digunakan untuk belajar tidak sama dengan ketika belajar di kelas. Waktu yang digunakan lebih singkat, jadi para pengajar mengalami kendala dalam menyampaikan materi. Juga terkait dengan kemampuan berteknologi. Masih banyak para pengajar yang belum bisa memahami tentang cara berteknologi yang semakin canggih.
Dan masalah yang terpenting adalah para pengajar sulit untuk mengajarkan etika atau nilai moral karena tidak bisa bertatap secara langsung. Dengan demikian, baik pelajar maupun pengajar sama-sama mengalami kesulitan selama proses pembelajaran jarak jauh.
Diharapkan semoga pandemi virus Covid-19 ini cepat berakhir sehingga sistem pendidikan di Indonesia kembali pulih. Dan para penerus bangsa bisa melanjutkan pendidikannya dengan nyaman. Sehingga bisa membuat masa depan negara Indonesia menjadi lebih baik.
Dengan demikian, seluruh komponen wajib mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) hal tersebut dikatakan agar proses belajar mengajar dapat kembali normal dan meningkatkan mutu pendidikan untuk anak bangsa. (Sri Ratu Dewi)



