Bandung, (Persepsi.co.id) – Setiap tahun, ratusan ribu keluarga kehilangan sosok pekerja yang jadi tulang punggung mereka. Ada di antaranya yang tutup usia akibat kecelakaan kerja, ada juga yang meninggal dunia karena sakit yang diderita.

Rasa duka tentu menjadi hal pertama yang sangat terasa. Namun di balik itu, ada kegundahan besar, soal bagaimana keluarga ini bisa menjalani hidupnya ke depan.

Di titik inilah perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan hadir untuk mereka. Tak hanya berupa manfaat rupiah semata, namun juga pendampingan bagi keluarga pekerja agar kembali berdaya, memiliki keterampilan, dan membangun sumber penghidupan baru, sehingga dapat melanjutkan kehidupan secara mandiri.

Semangat inilah yang diwujudkan BPJS Ketenagakerjaan melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Penerima Manfaat (PEKA). Sejalan dengan semangat Hari Kemerdekaan untuk terus maju dan berdaya, BPJS Ketenagakerjaan menggelar Soft Launching Nasional PEKA yang dipusatkan di Bandung, Selasa (18/8).

Kegiatan tersebut diresmikan oleh Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli bersama Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat dan Wali Kota Bandung yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Iskandar Zulkarnain, serta diikuti secara serentak di seluruh Indonesia.

Membawa semangat Value Beyond Protection, PEKA menjadi bukti bahwa perlindungan BPJS Ketenagakerjaan tak berhenti ketika manfaat telah diterima. Ada harapan agar manfaat tersebut menjadi pijakan bagi pekerja dan keluarganya untuk bangkit, kembali produktif, dan melanjutkan kehidupan secara mandiri.

Semangat pemberdayaan tersebut juga sejalan dengan Asta Cita Ke-6 Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.

Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli mengapresiasi inisiatif BPJS Ketenagakerjaan melalui PEKA. Menurutnya, program tersebut menunjukkan bahwa kehadiran BPJS Ketenagakerjaan tidak berhenti pada pemberian manfaat atau santunan, tetapi berlanjut dengan pendampingan agar manfaat yang diterima dapat dikelola secara produktif dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.

“Idenya luar biasa. Menurut saya, ini harus kita apresiasi. BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya sampai memberikan uang atau santunan, tapi juga mengawal bagaimana uang atau santunan itu bisa bermanfaat secara berlanjut, terus-menerus. Karena memang kemandirian ini menjadi kunci,” ujar Yassierli.

Ia menilai PEKA berpotensi mendorong lahirnya tenaga kerja mandiri dan wirausaha baru. Kementerian Ketenagakerjaan juga siap berkolaborasi dan memberikan pendampingan agar para penerima manfaat maupun ahli waris mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

“Kita berharap bisa menumbuhkan tenaga kerja mandiri baru, wirausaha baru yang akan menjadi soko guru perekonomian bangsa kita. Ujungnya tentu kita berharap tidak hanya wirausaha baru, tapi juga nanti menciptakan lapangan kerja baru,” tambahnya.

Yassierli berharap PEKA dapat menjadi harapan baru bagi penerima manfaat dan ahli waris untuk membangun kemandirian sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Sementara itu Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat mengatakan, PEKA berangkat dari perhatian terhadap keberlanjutan manfaat yang diterima pekerja maupun ahli waris. BPJS Ketenagakerjaan ingin memastikan manfaat tersebut tidak hanya memberikan ketahanan dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi bekal untuk membangun kemandirian ekonomi.

“Kami melihat bagaimana manfaat yang diterima peserta ini bisa menjadi produktif. Kami khawatir kalau tidak dilakukan pendampingan dan pembekalan, manfaat yang diterima hanya menjadi konsumtif. Karena itu, melalui PEKA kami ingin mendorong shifting dari konsumtif menjadi produktif, dari menerima manfaat menjadi memiliki daya, dan pada akhirnya menjadi mandiri,” ujar Saiful.

Menurutnya, keberhasilan PEKA bukan semata diukur dari jumlah pelatihan maupun peserta, melainkan dari kemampuan penerima manfaat untuk menjadi produktif, memperoleh penghasilan, dan kembali mandiri.

Sebanyak 1.426 penerima manfaat mengikuti rangkaian kegiatan PEKA yang digelar serentak di 45 titik seluruh Indonesia.

Pemberdayaan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan peserta serta potensi ekonomi di masing-masing daerah. Bentuknya dapat berupa peningkatan kompetensi, pelatihan kewirausahaan, digital marketing/content creator, kuliner/tata boga, kerajinan/handycraft, florist, barista, laundry, make up, menjahit, reseller, serta pelatihan usaha lainnya sesuai potensi daerah.

Dalam pelaksanaannya, BPJS Ketenagakerjaan mengedepankan kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, komunitas, serta berbagai mitra strategis lainnya.

“Harapannya kegiatan ini benar-benar menjadi kegiatan bersama. Karena itu kami berkolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, komunitas, dan ekosistem lainnya untuk bersama-sama memberdayakan ekonomi dan kemandirian para penerima manfaat. Bahkan, kita berharap nantinya mereka juga bisa membuka lapangan pekerjaan baru,” tutup Saiful.

Ditempat terpisah, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Banten, Muhyidin mengatakan bahwa dinKota Serang, PEKA diikuti sebanyak 73 penerima manfaat dengan kegiatan berupa pemberian pelatihan berupa materi bijak mengelola manfaat jaminan sosial untuk masa depan yang lebih sejahtera, selanjutnya materi overview dan pengenalan pelatihan kewirausahaan di BBPVP Serang, dan materi kredit perbankan dan Penggunaan QRIS untuk Kewirausahaan serta terakhir materi Program BPJS Ketenagakerjaan.

Kegiatan tersebut terselenggara melalui kolaborasi BPJS Ketenagakerjaan bersama Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBVP) Serang dan turut dihadiri oleh Ihsanudin selaku Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan, Muhyidin selaku Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Banten, Ayunda Herjuning Tyas selaku Institutional Sales, PT Trimegah Asset Management, Septo Kalnadi selaku Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten, Ady Nugroho selaku Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBVP) Serang, yang diwakili oleh Hairuka Dhewy selaku Koordinator Bidang Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi dan Peningkatan Produktivitas dan Wahyudi Gusti Antoni selaku Branch Manager BTN KC Cilegon, yang diwakili oleh Anton Hartanto selaku SME & Credit Program Head KC Cilegon.

Lebih lanjut, Muhyidin juga menjelaskan bahwa Program PEKA (Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian) adalah insiatif dari BPJS Ketenagakerjaan untuk membekali ahli waris peserta atau calon pensiunan dengan pelatihan kewirausahaan dan pendampingan ekonomi agar mandiri dan produktif.

“Pada program PEKA ini, kami mengadakan berbagai pemberdayaan pelatihan kepada ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan. Adapun kegiatan pelatihannya yang sifatnya dasar seperti bagaimana mengelola keuangan, kemudian pelatihan kewirausahaan, dan materi kredit perbankan,” kata Muhyidin.

“Nanti dari hasil pertemuan hari ini kita akan lebih dalam lagi untuk peminatan para peserta. Misalnya ada peserta yang minat untuk pembuatan kue, atau yang berminat jadi barista nanti mereka akan dikumpulkan per kelas kemudian akan dilatih oleh BBVP Serang,” tambah Muhyidin.

Terakhir, Muhyidin berharap melalui program PEKA tersebut dapat mendorong agar manfaat jaminan sosial tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan, tetapi juga dapat dikelola secara lebih produktif untuk mendukung keberlanjutan ekonomi para penerima manfaat.

“Dan melalui program PEKA ini, kami ingin memastikan bahwa para penerima manfaat program jaminan sosial ketenagakerjaan itu uangnya dapat terkelola dengan baik, kemudian produktif dan tentu hasilnya nanti profit sehingga para penerima manfaat program BPJS Ketenagakerjaan ini dapat melaksanakan kehidupan yang berkelanjutan,” harap Muhyidin.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten Septo Kalnadi sangat mengapresiasi Program PEKA (Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian) tersebut.

“Dengan program dari BPJS ketenagakerjaan ini mereka diberikan pelatihan atau bekal untuk menata kembali perekonomian keluarga karena dari beberapa santunan yang mereka terima minimal Rp. 42 atau ada yang hingga ratusan juta lebih. Sehingga melalui kegiatan ini, mereka dilatih untuk tetap berproduktif dan tidak jatuh miskin,”. ucapnya.

“Dan kami Pemerintah Provinsi Banten sangat mendukung program BPJS Ketenagakerjaan ini. Harapannya, pemberdayaan tidak berhenti setelah pelatihan, tetapi terus berlanjut melalui pendampingan dan kolaborasi sehingga mampu memberikan dampak nyata terhadap kemandirian ekonomi para penerima manfaat,” harapnya.

Ditempat yang sama, Suhelina salah satu peserta pelatihan pada program PEKA BPJS Ketenagakerjaan tersebut sangat mengapresiasi atas dilaksanakannya kegiatan pelatihan dan pemberdayaan tersebut.

“Kegiatan hari ini sangat luar biasa, sangat memberikan manfaat bagi kami. Sehingga kedepannya melalui kegiatan ini pikiran kami jadi lebih terbuka untuk berwirausaha dalam melanjutkan kehidupan kami. Untuk itu, kami mengucapkan terimakasih kepada BPJS Ketenagakerjaan yang memfasilitasi ini semua,” ungkapnya.