
Serang, (persepsi.o.id)– Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) secara terpadu di MA Darul Irfan Kota Serang. Kegiatan ini diinisiasi oleh dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan dengan tujuan memperkuat literasi digital pelajar sekaligus meningkatkan kesadaran politik digital untuk mencegah cyberbullying dan membangun kewargaan yang sehat di ruang siber.

Rangkaian kegiatan pada Jumat 21 November 2025 dimulai pukul 08.00 WIB dengan sambutan dari Imron Wasi, S.Sos., M.I.P., dosen Ilmu Pemerintahan UNPAM. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi antusiasme pihak madrasah serta komitmen mahasiswa yang telah mempersiapkan kegiatan ini sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala MA Darul Irfan Kota Serang H. Chasan M.Pd. yang menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran dosen dan mahasiswa UNPAM. Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang penting bagi siswa untuk memperluas pemahaman mengenai dunia digital, sekaligus mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan akademisi dan mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Setelah sambutan, dilakukan penyerahan cenderamata dan sesi foto bersama sebagai simbol kolaborasi antara UNPAM dan pihak madrasah.
Kegiatan kemudian terbagi menjadi dua pemaparan materi oleh Mahasiswa dengan dipandu oleh Dosen Efriza, S.IP., M.Si. Materi pertama berjudul “Penguatan Literasi Digital terhadap Pencegahan Cyberbullying” yang dipersentasikan oleh Anggota PKM Dede Sulaesih. Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan konsep etika digital, keamanan informasi, tanda-tanda cyberbullying, serta langkah praktis untuk mencegah dan melaporkannya. Dede juga menekankan pentingnya budaya digital yang berempati agar ruang daring tidak menjadi tempat perundungan.
Selanjutnya, materi kedua mengusung tema “Peningkatan Literasi Politik Digital terhadap Pencegahan Cyberbullying sebagai Upaya Revitalisasi Kewargaan”, yang disampaikan oleh Ketua Kelompok PKM Faojah. Materi ini berfokus pada bagaimana literasi politik digital berperan dalam membentuk warga digital yang sadar tanggung jawab, memahami dinamika ruang publik virtual, dan mampu berpartisipasi secara sehat dalam demokrasi digital. Ia menegaskan bahwa pencegahan cyberbullying tidak hanya urusan etika personal, tetapi juga bentuk partisipasi kewargaan, dengan menghadirkan contoh-contoh nyata di ruang digital saat ini.
Kegiatan semakin menarik ketika memasuki sesi tanya jawab. Salah satu siswa mengajukan pertanyaan kritis mengenai apakah faktor ekonomi mempengaruhi seseorang menjadi pelaku bullying. Menanggapi hal tersebut, Faojah menjelaskan bahwa perilaku bullying dipengaruhi tiga aspek utama: ekonomi, pendidikan, dan keluarga. Ketiganya membentuk moral, karakter, serta mentalitas seseorang. “Ekonomi bisa saja menjadi faktor, tapi ia selalu berkelindan dengan pendidikan dan lingkungan keluarga. Ketiganya saling mempengaruhi dalam membangun karakter individu,” jelasnya.
Pertanyaan lain muncul terkait apakah siswa boleh mengikuti demonstrasi. Faojah menjawab bahwa partisipasi siswa dalam demonstrasi pada dasarnya diperbolehkan jika didasari pemahaman yang matang atas isu yang diperjuangkan. “Demonstrasi itu bagian dari partisipasi politik. Namun sebelum turun ke lapangan, siswa harus mengkaji isu yang diangkat, tidak hanya ikut-ikut saja. Bahkan, Indonesia mengalami perubahan besar pada era Reformasi karena keberanian mahasiswa, tetapi berkontribusi dalam politik tidak selalu harus turun ke jalan. Siswa bisa memulainya melalui diskusi kritis, literasi, dan peningkatan kesadaran kolektif,” paparnya.
Dengan adanya dialog tersebut, kegiatan PKM tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk berpikir kritis mengenai perilaku digital, partisipasi kewargaan, serta perannya sebagai generasi muda dalam menjaga kualitas kehidupan demokrasi.



