Jakarta Timur, (Persepsi.co.id) — Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang terus bergerak cepat, pertanyaan tentang seperti apa kecerdasan manusia di masa depan kembali menggema. Pertanyaan itulah yang menjadi denyut utama dalam kegiatan Community Impact Seminar bertema “Membaca Kecerdasan Masa Depan” yang digelar di Yayasan Bannan, Jakarta Timur, Minggu (9/5/2026).

Sejak pagi hari, ruang seminar dipenuhi antusiasme para dewan guru Yayasan Bannan yang hadir dengan semangat belajar dan refleksi. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini tidak hanya menghadirkan diskusi akademik, tetapi juga ruang perenungan mendalam tentang arah pendidikan dan masa depan manusia di era modern.

Seminar ini menghadirkan Prof. Dr. Made Saihu, M.Pd.I Wakil Rektor 1 Universitas PTIQ Jakarta sebagai keynote speaker, dilanjutkan dengan pemaparan dari mahasiswa doktoral MPI Universitas PTIQ Jakarta, yakni Ahmad Farid, Mukhlisin, Abdul Muhyi, Neneng Kurnia, dan Indria Ningsih. Perpaduan antara perspektif akademik, spiritual, dan realitas pendidikan kontemporer membuat forum berlangsung hidup, reflektif, dan penuh energi intelektual.

Dalam pemaparannya, Prof. Made Saihu mengajak peserta untuk melihat konsep kecerdasan secara lebih luas, melampaui batas-batas konvensional yang selama ini hanya berfokus pada aspek intelektual dan emosional. Ia menyoroti konsep ilmu ladunni sebagai bentuk kecerdasan masa depan yang sering disalahpahami secara mistis.

“Ilmu ladunni sering disalahpahami sebagai ‘pengetahuan instan dari Tuhan’ yang mistis. Padahal, dalam konteks kecerdasan masa depan, ia menawarkan paradigma radikal: pengetahuan tanpa rantai kausalitas konvensional, sebuah lompatan epistemologis yang semakin relevan di era disrupsi,” ungkap Prof. Made Saihu di hadapan peserta seminar.


Ia menjelaskan bahwa kecerdasan ladunni berbeda dengan IQ yang bertumpu pada logika, EQ yang berorientasi pada emosi, maupun SQ dalam pengertian spiritual umum. Menurutnya, kecerdasan ini lahir dari proses tazkiyah atau penyucian jiwa dan irfān, yakni kesadaran yang terhubung langsung pada sumber realitas.
“Ia adalah knowing by being, bukan knowing by learning,” lanjutnya, disambut perhatian serius dari para peserta.

Pemaparan tersebut memantik diskusi yang hangat dan mendalam. Para guru Yayasan Bannan tampak aktif mengajukan pertanyaan, terutama terkait bagaimana dunia pendidikan dapat menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan adaptif menghadapi masa depan.

Sesi diskusi bersama mahasiswa doktoral MPI Universitas PTIQ Jakarta berlangsung dinamis. Berbagai gagasan tentang transformasi pendidikan, integrasi nilai spiritual dalam pembelajaran, hingga tantangan kecerdasan manusia di era kecerdasan buatan menjadi topik yang menghidupkan forum. Interaksi yang cair antara pemateri dan peserta menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendidikan yang lebih humanis dan transformatif semakin dirasakan.
Kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar seminar ilmiah. Ia menjelma sebagai ruang penyadaran bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya mencetak manusia yang pintar secara teknis, tetapi juga harus mampu melahirkan pribadi yang memiliki kedalaman moral, kejernihan batin, dan kemampuan membaca perubahan zaman dengan bijaksana.


Bagi Yayasan Bannan, seminar ini memberikan dampak nyata dalam memperluas wawasan para guru mengenai paradigma pendidikan masa depan. Sementara bagi mahasiswa doktoral MPI PTIQ Jakarta, kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi akademik kepada masyarakat melalui dialog keilmuan yang membumi dan relevan.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, seminar ini seakan mengingatkan bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas kesadaran manusia. Dari ruang sederhana di Yayasan Bannan, sebuah pesan penting kembali ditegaskan: bahwa kecerdasan sejati bukan sekadar tentang seberapa banyak manusia mengetahui, tetapi tentang bagaimana manusia memaknai pengetahuan itu untuk menghadirkan kebermanfaatan bagi kehidupan.