Minanto lahir 6 Juni 1992 adalah seorang novelis Indonesia. Karyanya, Aib dan Nasib, menjadi pemenang juara I dalam Sayembara Menulis Novel 2019 oleh Dewan Kesenian Jakarta. Novel pertamanya yang berjudul Semang (2017) diterbitkan oleh Diandra Creative, dan novel keduanya Dulatip Ingin Membenturkan Kepalanya Ke Tembok Setiap Kali Ia Diberitahui Kabar Tentang Orang Tua (2018), terbit oleh Indie Book Corner. Aib dan Nasib adalah novel ke-empat (yang ketiga tidak dirilis) yang ia tulis.
Tak ada gambaran desa yang kental akan tradisi atau cerita-cerita tentang tenteramnya kehidupan masyarakat pedesaan dalam Aib dan Nasib. Karya ini datang dengan konflik yang dirangkai menjadi sebuah kisah yang kaya. Novel ini menyajikan berbagai konflik yang
diceritakan dalam bentuk potongan-potongan episodik. Sebuah daerah bernama Tegalurung pun dijadikan sebagai latar tempat. Kehidupan masyarakat di sana dengan persoalan-persoalan yang mereka hadapi adalah hal yang dikisahkan dengan alur maju-mundur.
Kecanggihan teknologi dan kedatangan internet menyambangi berbagai tempat di
belahan bumi, termasuk di Tegalurung. Masyarakat Tegalurung, seperti Boled Boleng dan Bagong Badrudin, juga menikmati datangnya “teman” baru yang disebut media sosial. Novel ini menggambarkan betapa gagapnya masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi
dan internet.
Selain menampilkan kisah masyarakat dan internet, Aib dan Nasib juga menyinggung
politik elektoral tingkat lokal. Kaji Basuki, salah satu tokoh dalam novel ini, mewakilkan kebiasaan calon pejabat dalam masa kampanye, yaitu menyambangi masyarakat dari rumah ke rumah dan membagikan uang. Semua itu dilakukan untuk menarik simpati agar masyarakat
memilihnya saat hari pemilihan. “Punten, Mang Sota. Nanti tanggal 17 nanti,coblos nomor Partai Kuning. Setelah coblos Partai Kuning, coblos juga namaku di urutan nomor satu” (Halaman: 212).
Nasib baik dan buruk berjalan beriringan dengan kisah parah tokoh dalam Aib dan
Nasib. Kehidupan para tokoh selayaknya kehidupan manusia yang kerap kali berada di atas atau di bawah. Dinamika kehidupan seperti ini tentunya membuat pembaca mengalami segala rasa—bahagia, sedih, dan kesal—saat menjelajahi kisah-kisah dalam Aib dan Nasib.
Aib dan Nasib merupakan karya fiksi novel menceritakan tentang kehidupan
masyarakat rural di Indramayu. Kehidupan sosial penuh dengan konflik di dalamnya, setiap keluarga. Bayangan desa damai akan lenyap begitu membaca novel ini. Serangkaian peristiwa diramu dengan baik melalui stilistika penceritaan bahasa sastrawi. Minanto sebagai objek kreator mengemas cerita menebar jala estetika bahasa. Sepakat kata Endaswara, sastra
merupakan seni tulis yang estetis (2013:15). Oleh karenanya, peneliti melakukan pendedahan terhadap variasi bahasa dari segi penutur.
Berikut merupakan temuan dan analisisnya.
1. Dialek
Pada novel Aib dan Nasib, muncul beberapa dialek dalam stilistika penceritaan
novel. Dialek itu tersajikan dalam bentuk dialog. Varian bahasa dialek tersebut menunjukkan adanya masyarakat bahasa (speech community) dalam novel.
Keberadaan dialek menunjukkan dan menggambarkan latar belakang budaya dan
masyarakat sebagai penutur.
“Bu, Bapak lagi di mana?” ulang Gulabia.
“Bapak lagi di kebon, Nok, sedang mengurus kemaliran di kebon Kaji
Ujang,” ujar perempuan itu sambil meraih tangan Gulabia. (ADN, 2020:122).
Bagi Hartmann dan Stork, dialek dipengaruhi oleh regional, temporal, dan
sosial (1972:65). Penggunaan kosakata ‘kemaliran’ merupakan dialek Indramayu
untuk menggambarkan suatu keadaan tempat atau seseorang sedang melakukan
pengairan di persawahan. Melalui ragam bahasa penutur tokoh perempuan kita
kenali varian bahasa Indramayu.
Dialek Indramayu lain, tampak pada penggunaan kosakata ‘blesak’, berarti
jelek. Masyarakat Indramayu dalam novel menggambaran suatu keadaan jelek
untuk objek orang. Varian bahasa itu ditemukan pada kutipan dialogis Badrudin
kepada Boled Boleng. Dalam dialek Madura, jelek berarti ‘jubek’. Sedangkan
dialek Jawa Timuran berarti ‘elek’. Perbedaan ragam bahasa ini menunjukkan
estetika bahasa setiap daerah. Bilamana, bahasa itu bias jadi berbeda ketika
disebutkan oleh orang dengan perasalan berbeda.
Seperti istilah atau dialek Indramayu ‘jaburan’, berarti makanan ringan, seperti
gorengan, kue basah, dan lain sebagainya. Stilistika penceritaan, ditunjukkan dialek
itu terlontar tokoh Mang Sota. “Duh, kalau ramai begitu, aku harus beli jaburan dulu.” (ADN, 2020:187-188). Latar peristiwa kutipan terjadi saat kerja bakti di sekitaran rumah Mang Sota. Penggunaan bahasa tutur ‘jaburan’ tentu berbeda dengan dialek Jawa, misalnya. Masyarakat Jawa Timuran-an menyebutkan istilah makanan ringan, biasanya menggunakan kata ‘cemilan’. Estetika ini berbeda lagi ketika dituturkan oleh masyarakat berbahasa Indonesia asli, yaitu ‘camilan’.
Peristiwa bahasa ini disebut dengan aksen (logat), yaitu ragam bahasa
tulisannya sama, tetapi pelafalannya (Alwasilah, 1990:49). Contoh, penyebutan
nasi adalah ‘sega’. Logat dialek Banyumas, yaitu ‘sega’, sedangkan logat Jawa
Timur ‘sego’. Selain dialek Indramayu, novel juga menggunakan estetika bahasa
dialek Jawa. Dialek tersebut tersebar di teks novel. Hal itu mungkin saja terjadi
karena bahasa masyarakat Indramayu mengalami akulturasi bahasa Jawa. Seperti
pada kata enteng, bobrok, jejeg, punten, bati, metu, dan lain sebagainya.
“Bi Yati sering hilang bati dagang, hilang dompet, hilang stik PS, hilang
HP. Nanti-nanti kupikir ia akan kehilangan sepeda motor.” (ADN,
2020:46).
Penggunaan kosakata ‘bati’ merupakan bahasa Jawa berarti untung. Kutipan
menarasikan suatu keadaan yang terjadi pada tokoh Bi Yati. Dalam konteks ini,
pemerian warna bahasa dilakukan pengarang sebagai pemanis. Pengarang
membangun cerita menggunakan bahasa yang khas, diksi, dan perumpamaan yang
tepat mewakili fenomena sosial yang terjadi. Bahasa merupakan medium sastra
(Suhardi, 2011:8).
2. Idiolek
Estetika pada sistem bahasa tutur dapat dilihat dari kebiasaan masyarakat
hubungannya dengan sosialnya. Adapun penggunaan bahasa idiolek dapat ditandai
dari pemerian: (i) warna bahasa; (ii) gaya bertutur; dan (iii) pilihan kata. Idiolek
pada novel, akan lebih tampak apabila ditunjukkan pengarang dalam gaya dialog.
“Lah, kapan Uripah balik?”
“Belum balik.”
“Kata Mang Sota tadi Uripah sudah tidur.” (ADN, 2020:6)
Gaya bertutur di atas, memiliki idiolek dari penggunaan istilah kata ‘balik’.
‘balik’ berarti pulang. Ragam bahasa idiolek tampak dari komunikasi dialogis
kedua tokoh Mang Sota dan Yuminah. Pengarang menyisipkan gaya bertutur
masyarakat budaya Indramayu. Budaya bahasa masyarakat Indramayu memiliki
pengaruh lingkungan sosial, yaitu dialek Indramayu-Jawa. Karenanya, gaya
bertutur sehari-hari muncul beberapa dialek.
“Kulihat pekerjaanmu cuma muter-muter kampung dengan sepeda.
Masa tidak melihat Boled Boleng sama sekali?” (ADN, 2020:9).
Varian bahasa idiolek dalam novel, mudah dikenali melalui pemahaman
penceritaan dialogis. Seperti dikatakan di awal, varian ini ditinjau dar segi penutur.
Pada kutipan di atas, idiolek tampak dari pilihan kata dituturkan tokoh Badrudin
kepada Sumarta. Pilihan kata pada kutipan dilakukan untuk menunjukkan estetika
bahasa dalam novel. Selan itu pula, pemerian diksi bahasa dimaksudkan untuk
melukiskan suatu keadaan yang lebih tepat. Idiolek dalam novel, juga menunjukkan
sifat bahasa yang unik. Bahasa unik ditandai dengan gaya bertutur secara personal.
Ditunjukkan pengarang, keunikan berkomunikasi itu dibumbuhi, seperti kata ‘lah’,
‘toh’ ‘lo’, ‘nah’, ‘heh’ dan lain sebagainya.
“Kalau kau bersungguh-sungguh, coba carilah!. Orang mati tidak
akan bisa lari, toh?” seloroh Susanto (AND, 2020:13).
3. Sosiolek
Varian bahasa sosiolek atau dialek sosial secara langsung merujuk pada
kelompok sosial suatu masyarakat. Kelompok sosial tersebut dapat ditemukan
berdasarkan pengelompokkan: (i) status sosial, (ii) pendidikan, (iii) jabatan, (iv)
pekerjaan, (vii) keadaan ekonomi, dan lain sebagainya. Dalam novel Aib dan Nasib,
estetika bahasa sosiolek ditujukkan oleh Bagong Badrudin.
“Silakan ganti terali saja, Pak. Penjarakan saja anakmu ini,” Bagong
terdengar menantang… (ADN, 2020:75).
Memahami kutipan dialogis di atas, peneliti berasumsi ragam bahasa sosiolek,
sejatinya varian bahasa yang dipengaruhi oleh suatu keadaan sosial masyarakat.
Selain lingkungan, kajian varian bahasa sosiolek pada kutipan di atas ditunjukkan
mendapat pengaruh dari segi pendidikan. Tokoh Bagong Badrudin, salah satu
pemuda tidak terpelajar, sehingga cara bertutur melontarkan bahasa kurang sopan
atau bahasa kasar kepada orang tua. Pengggunaan estetika bahasa ini menunjukkan
status pendidikan rendah tokoh.
Pendidikan rendah menjadi pengaruh gaya tutur masyarakat. Berbeda dengan
masyarakat berpendidikan, tentunya dalam berkomunikasi memiliki unggahungguh basa. Dalam novel, tampak seperti tokoh Sobirin. “Jangan pernah berjanji
kalau kamu tidak dapat menepati, Nok Gulabia.” (ADN, 2020:152).
Meski tidak disebutkan pendidikan tokoh Sobirin, peneliti berasumsi status
sosial dan pekerjaan berpengaruh pada kehidupan tokoh. Tokoh bermata
pencaharian sebagai tukang ceramah. Sobirin sering mengisi pengajian di
kampung-kampung. Tidak seperti Baridin, Badrudin, dan anak-anak muda lainnya
sering mengeluarkan bahasa kurang pantas. Di antaranya goblok, minggat, bangsat,
kampret, anjing, dan lain sebagainya.
“Minggat kau! Dasar Cecunguk!” (AND, 2020:75).
Penggunaan bahasa pada kutipan di atas secara langsung mengisyaratkan
bahasa kasar, bahasa kurang pantas. Stilistika penceritaan dialogis tersebut
dilakukan Bagong Badrudin. Hal itu menandakan bahasa pengucapan sehari-hari
dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Baik keluarga dan masyarakat. Bagong
Badrudin terkontaminasi bahasa keseharian orang tuanya, Badrudin. Selanjutnya,
varian bahasa sosiolek dipengaruhi oleh pekerjaan dan keadaan sosial ekonomi.
Dalam novel, varian tersebut ditemukan pada latar peristiwa di sebuah pangkalan
becak. Pengarang menceritakan terjadi obrolan antartukang becak di Pasar Baru.
Mereka adalah Mang Sota dan beberapa tukang becak lainnya.
Di antara tongkrongan tukang becak, seorang pernah celetuk, “Kenapa
tidak kau titipkan saja anakmu ke panti asuhan sih, Mang?” “Biar begini
juga ia anakku.” (ADN, 2020:87).
Masyarakat berbahasa dalam novel, sekelompok tokoh pada kutipan berada
pada sosial ekonomi rendah. Masyarakat memenuhi kebutuhan sehari membanting
tulang. Ragam bahasa dari segi penutur timbul atas keterbukaan keadaan ekonomi.
Pada kesempatan ini, pengarang menunjukkan penggunaan bahasa dan masyarakat
sesuai dengan latar belakangnya.
4. Kronolek
Kronolek atau dialek temporal, terjadi karena penggunaan bahasa pada suatu
masa tertentu. Maksudnya, ragam bahasa pada masa dahulu dengan masa kini
berbeda. Masa kini, muncul istilah-istilah baru dalam bahasa.
Pada novel, varian ini focus pada varian bahasa kekinian dalam komunikasi, seperti
HP, SMS, facebook, like, dan lain sebagainya.
“Rekaman ini kuharap bisa tersebar seantero Indonesia karena rekaman
ngentot pelepah pisang tu sudah sangat using, dan cuma mendapat sedikit
like.” (AND, 2020:149).
Penggunaan bahasa komunikasi like, menandakan varian bahasa segi penutur
kekinian yang lahir di era digital. Generasi terbiasa menuturkan bahasa keInggrisan dalam aktivitas bahasa. Penggunaan bahasa dalam kutipan dilakukan oleh
sekelompok anak muda Tegalurung yang candu internet. Penggunaan kata
‘rekaman’ menunjukkan kehidupan baru dampak dari perkembangan zaman.
Mengiringi penggunaan bahasa dalam masyarakat kekinian, novel banyak
menyinggung bahasa pada masa era digital. Tidak saja bahasa, tetapi juga obrolan
seperti donor rahim. Obrolan dilakukan Eni dengan Marlina pada suatu malam.
Kini ketakutan itu justru menampakkan muka saat Eni bergurau, dan
berkata, “Gila memang, Mas. Di luar negeri ada donor rahim. Jadi, siapa saja
perempuan mandul, bolehlah ia meminjam rahim perempuan lain untuk
menumbuhkan janin sampai dilahirkan.”
“Masa?”
“Ya,” ujar Eni mantap.
“Kata orang di Fesbuk.” (ADN, 2020:163).
Penggunaan bahasa donor rahim merupakan ragam bahasa masyarakat kini.
Masyarakat abad-20 yang rata-rata berada pada usia milenial. Masyarakat bahasa
pada zaman dahulu, tidak mengenal istilah donor. Adapun penggunaan kata donor
berarti menyumbang, sehingga varian bahasa kronolek pada kutipan berasumsi
pada kegiatan atau aktivitas menyumbang rahim atau calon bayi. Dengan demikian,
novel Aib dan Nasib mengandung keempat estetika varian bahasa dari segi penutur.
Di antaranya dialek, idiolek, sosiolek, dan kronolek.
Keempat estetika bahasa ini tersebar pada teks novel. Sangat baik, novel dapat
menambah pengetahuan tentang sistem kebahasaan dari segi penutur, khususnya di
Indramayu. Bilamana ada hubungan antara bahasa dan masyarakat. Penggunaan
bahasa dalam masyarakat menunjukkan kebudayaan sistem bahasa
(Koentjaraningrat, 2009:261). Lebih dari itu, peneliti belajar dan mengetahui, serta
memahami ragam bahasa dimiliki setiap daerah di Indonesia. Bahkan, satu daerah
memiliki beberapa ragam bahasa di lingkungannya (dialek regional).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Varian bahasa merupakan warnawarna bahasa berdasarkan penggunaannya. Dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto,
terdapat dialek Indramaju dan dialek Jawa. Varian idiolek hampir menyeluruh tersebar dalam
teks novel.
Pengarang banyak menyisipkan warna bahasa, gaya bertutur, dan pilihan kata dalam
dialog maupun narasi. Sedangkan, varian sosiolek dalam dialog antar tokoh meliputi pekerjaan,
pendidikan, dan sosial ekonomi. Dalam hal pekerjaan, ditunjukkan tokoh-tokoh tukang becak
memberikan suatu masukan atau usulan terkait dengan Uripah supaya dimasukkan ke panti.
Maksud dari pelontaran maksud bahasa untuk memudahkan Mang Sota bekerja. Varian
kronolek merujuk pada bahasa kekinian.
Bahasa yang muncul dengan isitilah-istilah baru yang tidak ada atau jarang digunakan
oleh masyarakat bahasa. Seperti donor, facebook, unggah, PS, telepon, dan lain sebagainya.
Dari temuan-temuan estetika bahasa dalam novel menunjukkan pengarang tidak melepaskan
diri dari lingkungannya.
Bahasa penceritaan menggunakan beberapa bahasa tanah kelahiran, yaitu Indramayu.
Hal ini secara langsung pengarang bangga atas bahasa, sekaligus pewarnaan dan pemanis
bahasa dalam karya sastra sangat diperlukan.
Aji Supratman 161010750008



