Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd.
(Alumni Daar El-Qolam 1982 , Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Mizan Banten)

_Pesan Perjuangan untuk Para Kiai Alumni Daar El-Qolam dan La Tansa_

Para Kiai, Pimpinan, dan Pengasuh Pesantren Alumni Daar El-Qolam dan La Tansa yang kami muliakan,

Ada pertemuan-pertemuan yang sekadar mempertemukan orang-orang yang pernah berjalan bersama pada masa lalu. Tetapi ada pula pertemuan yang sesungguhnya mempertemukan kembali sebuah sejarah, nilai, cita-cita, dan tanggung jawab peradaban.

Pertemuan para kiai dan pimpinan pesantren alumni Daar El-Qolam dan La Tansa bukanlah sekadar reuni. Ia jauh lebih besar daripada nostalgia tentang masa-masa ketika kita pernah belajar, tinggal, dididik, ditempa, dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren.

Pertemuan ini sesungguhnya adalah pertemuan sebuah keluarga perjuangan.

Kita boleh datang dari pesantren yang berbeda-beda.

Kita mungkin kini memimpin lembaga dengan nama, bentuk, tradisi, sistem, jumlah santri, dan tantangan yang berbeda. Ada yang mengembangkan pesantren besar, ada yang sedang merintis dari bawah. Ada yang telah memiliki ribuan santri, ada yang masih berjuang dengan puluhan atau ratusan santri.

Namun, apabila kita menelusuri akar perjalanan masing-masing, kita akan menemukan satu titik penting yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah kehidupan dan perjuangan kita.

Ada jasa seorang kiai besar di belakang wujud kita hari ini.

Beliau adalah Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief, Pendiri, Pimpinan, dan Pengasuh Pondok Pesantren Daar El-Qolam dan La Tansa.

Kita Menjadi Seperti Hari Ini Karena Ada yang Pernah Menanam

Tidak ada pohon yang tumbuh tanpa akar.
Begitu pula, tidak ada generasi yang lahir tanpa pendahulu yang menanamkan nilai dan memberikan arah. Apa pun posisi kita hari ini—sebagai kiai, pimpinan pesantren, pengasuh, pendidik, atau pejuang pendidikan—kita tidak dapat melepaskan diri dari jasa orang-orang yang telah membentuk perjalanan hidup kita.

Dalam perjalanan tersebut, nama Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief menempati tempat yang sangat penting.

Beliau bukan hanya mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Beliau telah membangun sebuah tradisi perjuangan. Beliau tidak hanya mengumpulkan santri dalam sebuah lingkungan pesantren, tetapi menanamkan cara berpikir, cara hidup, cara berjuang, dan cara mengabdi.

Dari tangan beliau, dari pendidikan yang beliau bangun, dan dari nilai yang beliau tanamkan, lahirlah banyak kader yang kemudian berjalan ke berbagai penjuru.

Sebagian menjadi ulama.

Sebagian menjadi pendidik.

Sebagian menjadi pemimpin masyarakat.

Dan sebagian lainnya mendirikan, memimpin, serta mengembangkan pesantren-pesantren baru.

Maka, ketika hari ini kita melihat tumbuhnya berbagai pesantren yang dipimpin oleh alumni Daar El-Qolam dan La Tansa, sesungguhnya kita sedang melihat benih-benih perjuangan yang dahulu ditanam oleh seorang guru besar berkembang menjadi pohon-pohon baru di berbagai tempat.

Karena itu, sangat tepat apabila kita mengatakan:

“Wujud kita hari ini bukan semata-mata hasil perjuangan kita sendiri. Di belakang perjalanan kita ada jasa para guru, dan di antara guru besar yang telah membentuk arah perjuangan kita adalah Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief”.

Kesadaran ini penting, bukan untuk menjadikan kita hidup dalam bayang-bayang masa lalu, melainkan agar kita memiliki kerendahan hati dalam membaca sejarah.

Alumni Bukan Sekadar Hubungan Masa Lalu
Menjadi alumni bukan hanya berarti pernah belajar di tempat yang sama.

Alumni adalah ikatan nilai.

Alumni adalah persaudaraan sejarah.

Dan bagi para kiai serta pimpinan pesantren, alumni seharusnya menjadi jaringan perjuangan.

Kita tidak boleh berhenti pada cerita, “Dahulu kita pernah satu kamar, satu kelas, satu angkatan, atau satu pondok.”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang dapat kita lakukan bersama setelah kita berada di tempat perjuangan masing-masing?

Di sinilah pertemuan para pimpinan pesantren alumni menjadi sangat bermakna.

Kita datang bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk menyambung kekuatan.

Kita saling bertemu bukan hanya untuk bersalaman, tetapi untuk saling menguatkan.

Kita berkumpul bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk bertukar pengalaman, berbagi kegelisahan, dan mencari jalan keluar atas persoalan pendidikan umat.

Sebab perjuangan pesantren pada masa kini semakin kompleks.

Perubahan karakter generasi muda bergerak sangat cepat.

Teknologi digital membawa peluang sekaligus tantangan.

Persaingan pendidikan semakin terbuka. Tuntutan profesionalisme semakin besar. Persoalan kaderisasi, kepemimpinan, ekonomi pesantren, hingga tantangan menjaga karakter santri menjadi persoalan yang tidak dapat dipandang ringan.

Dalam situasi seperti inilah, silaturahmi harus berkembang menjadi sinergi.

Pertemuan harus berkembang menjadi komunikasi.

Komunikasi harus berkembang menjadi kerja sama.

Dan kerja sama harus berkembang menjadi kekuatan bersama.

Boleh Berbeda Pesantren, Tetapi Jangan Kehilangan Akar Nilai

Setiap pesantren memiliki perjalanan dan karakternya sendiri.

Tidak semua pesantren alumni harus sama.

Bahkan, keberagaman merupakan bagian dari kekayaan.

Ada pesantren yang tumbuh dengan corak tertentu. Ada yang mengembangkan pendidikan modern, ada yang lebih menonjolkan tradisi keilmuan tertentu, ada yang berkembang melalui pendekatan masyarakat, dan ada pula yang memiliki kekuatan pada bidang-bidang pendidikan lainnya.

Bentuk boleh berbeda.
Strategi boleh berbeda.
Sistem boleh berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Tetapi, akar nilai tidak boleh tercerabut.
Nilai-nilai seperti keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, disiplin, ukhuwah, kepemimpinan, dan pengabdian harus tetap menjadi ruh.
Inilah yang membuat sebuah pesantren bukan hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi menjadi tempat pembentukan manusia.

Sebab gedung dapat dibangun.

Kurikulum dapat diperbarui.

Teknologi dapat dibeli.
Tetapi ruh perjuangan tidak dapat dibeli.

Ia hanya dapat diwariskan.

*Pertemuan Ini Adalah “Recharging” Perjuangan*

Para kiai dan pimpinan pesantren sering kali menjadi orang-orang yang paling sibuk menguatkan orang lain.

Kita menguatkan guru.
Kita mendidik santri.
Kita membimbing masyarakat.
Kita memikirkan lembaga.
Kita menyelesaikan persoalan.

Tetapi, siapa yang menguatkan para penguat?

Di sinilah pentingnya pertemuan keluarga para pimpinan pesantren.

Pertemuan seperti ini menjadi ruang untuk melakukan recharging perjuangan.

Ketika kita melihat sahabat seperjuangan tetap bertahan dan berkembang, kita memperoleh energi.

Ketika kita mendengar pengalaman pesantren lain, kita mendapatkan pelajaran.

Ketika kita berbagi persoalan, kita menyadari bahwa perjuangan tidak kita pikul sendirian.

Kadang-kadang seorang pemimpin tidak membutuhkan jawaban yang panjang. Ia hanya membutuhkan keyakinan bahwa ada saudara seperjuangan yang memahami beratnya jalan yang sedang ditempuhnya.

Karena itu, pertemuan alumni harus menjadi tempat tumbuhnya budaya:
saling belajar, bukan saling membandingkan;
saling menguatkan, bukan saling melemahkan;
saling melengkapi, bukan saling menyaingi.

*Kita Memikul Estafet Generasi*

Ada satu pertanyaan besar yang seharusnya selalu hadir dalam pertemuan para alumni:

Apa yang akan kita wariskan?

Kita semua pernah menerima warisan.

Kita menerima ilmu.

Kita menerima pendidikan.

Kita menerima pengalaman.

Kita menerima keteladanan.

Kita menerima nilai-nilai perjuangan.

Kini, tugas kita bukan hanya menikmati warisan tersebut, tetapi meneruskannya.

Yang kita hadapi hari ini bukan hanya soal keberhasilan lembaga yang kita pimpin.

Lebih jauh daripada itu, kita sedang mempersiapkan generasi yang kelak akan meneruskan perjuangan setelah kita.

Maka pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang telah kita dapatkan dari Daar El-Qolam dan La Tansa?”

Tetapi:

“Apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita?”

Jika generasi sebelum kita mampu membangun pesantren dari keterbatasan, maka generasi kita harus mampu menjaga dan mengembangkannya tanpa kehilangan nilai.

Jika para pendiri mampu menanamkan semangat perjuangan, maka tugas kita adalah memastikan semangat itu tetap hidup di dalam jiwa generasi baru.

*Daar El-Qolam dan La Tansa Adalah Titik Temu, Bukan Titik Akhir*

Kita berasal dari satu akar pendidikan, tetapi perjalanan kita kemudian menyebar ke berbagai arah.

Dan justru di situlah keindahannya.

Nilai yang ditanamkan di Daar El-Qolam dan La Tansa tidak berhenti di gerbang pesantren.

Nilai itu berjalan bersama para alumninya.

Ia tumbuh di kampung-kampung.
Ia hidup di kota-kota.
Ia berkembang di lembaga-lembaga baru.
Ia melahirkan pesantren-pesantren baru.

Dengan demikian, keberhasilan sebuah pesantren tidak hanya diukur dari luasnya tanah atau megahnya bangunan.

Keberhasilan sejati adalah ketika nilai-nilainya mampu melahirkan manusia-manusia yang terus memberi manfaat.

Maka, boleh jadi suatu hari nanti, kita dapat melihat sebuah kenyataan yang sangat indah:

Dari satu pesantren lahir banyak pesantren.

Dari satu guru lahir banyak pemimpin.

Dari satu nilai lahir banyak pengabdian.

Dan semuanya itu bermula dari keberanian seseorang untuk memulai.

Keberanian untuk mendirikan.
Keberanian untuk mendidik.
Keberanian untuk berjuang.

Di antara jejak besar perjuangan itu berdiri sosok

Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief, yang telah memberikan ruang, pendidikan, teladan, dan arah bagi lahirnya generasi-generasi penerus.

*Menyambung Mata Rantai Peradaban Pesantren*

Oleh karena itu, wahai para kiai alumni Daar El-Qolam dan La Tansa, janganlah pertemuan kita berhenti ketika acara selesai.
Jangan biarkan silaturahmi hanya menjadi foto bersama.
Jangan biarkan persaudaraan hanya hidup dalam grup komunikasi.

Mari jadikan pertemuan ini sebagai pengingat bahwa kita berada dalam satu mata rantai perjuangan.

Kita boleh memiliki pesantren sendiri-sendiri, tetapi kita membawa nilai yang memiliki akar sejarah yang sama.

Kita boleh menempuh jalan yang berbeda, tetapi kita pernah menerima cahaya dari sumber pendidikan yang sama.

Kita dipertemukan oleh masa lalu.

Kita disatukan oleh nilai.

Dan kini, kita dituntut oleh masa depan.

Masa depan pesantren menunggu peran kita.

Masa depan umat membutuhkan kerja sama kita.

Dan generasi yang akan datang akan menilai, apakah kita hanya menjadi alumni yang mengenang sejarah, ataukah kita menjadi generasi yang meneruskan dan memperluas sejarah perjuangan itu.

Maka, pertemuan para kiai dan pimpinan pesantren alumni Daar El-Qolam dan La Tansa sesungguhnya bukan sekadar reuni.

Ia adalah pertemuan untuk menyambung mata rantai peradaban pesantren.

Sebuah peradaban yang dahulu dimulai oleh para pendahulu dengan keikhlasan dan pengorbanan.

Sebuah perjuangan yang telah melahirkan generasi.

Dan sebuah amanah yang kini berada di tangan kita semua.

Mari menjaga akar, menguatkan cabang, dan memperluas manfaat.

Sebab pada akhirnya, kita semua adalah bagian dari sebuah perjalanan besar:

Dari satu pesantren lahir banyak pesantren.

Dari satu nilai lahir banyak pengabdian.

Dan dari jasa seorang kiai besar, tumbuh generasi-generasi yang melanjutkan perjuangan untuk umat dan peradaban.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan kepada para pendiri dan guru-guru kita, menguatkan para kiai dan pimpinan pesantren dalam perjuangannya, serta menjadikan generasi penerus kita sebagai mata rantai yang tidak pernah putus dalam perjuangan menegakkan ilmu, akhlak, dan pengabdian.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.