SERANG, (Persepsi.co.id) – Dinas Kesehatan Provinsi Banten menggelar kegiatan evaluasi pencegahan dan pengendalian penyakit yang berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB), khususnya Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), seperti polio, campak-rubela, difteri, pertusis, dan tetanus neonatorum.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS, menegaskan bahwa meskipun cakupan imunisasi rutin di Banten terus meningkat, kewaspadaan tetap harus dijaga.

“Banten masih memiliki kantong-kantong wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Itu artinya, ancaman KLB masih nyata. Kita tidak bisa lengah,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan respons cepat sebagai kunci utama dalam mengendalikan penyebaran penyakit.

“Setiap kasus suspek harus segera ditemukan, dilaporkan dalam waktu 24 jam, dan direspons sesuai standar. Keterlambatan sekecil apa pun bisa berakibat besar pada penyebaran penyakit,” tegas Ati.

Salah satu strategi saat terjadi KLB adalah pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI). Namun, Ati menegaskan bahwa ORI bersifat darurat dan bukan solusi jangka panjang.

“Yang terpenting adalah menjaga cakupan imunisasi rutin tetap tinggi dan merata pasca-ORI. Jangan sampai ORI membuat kita terlena,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan dan surveilans kesehatan.

“Puskesmas bukan hanya tempat pelayanan, tapi juga benteng pertama dalam surveilans. Penguatan puskesmas sangat krusial, terutama dalam membangun kepercayaan masyarakat agar bersedia datang dan mengakses layanan imunisasi,” ujar Ati.

Kolaborasi antara puskesmas, dinas kesehatan kabupaten/kota, serta laboratorium menjadi bagian penting dari sistem deteksi dini dan pengendalian penyakit.

“Kalau puskesmas kuat, maka keseluruhan sistem kesehatan akan jauh lebih tangguh,” tambahnya.

Pemerintah Indonesia saat ini sedang mengejar tiga target besar: eradikasi polio global pada 2029, eliminasi campak-rubela pada 2027, dan mempertahankan eliminasi tetanus neonatorum. Target ini hanya bisa tercapai jika sistem imunisasi dan surveilans di daerah berjalan optimal.

Kegiatan evaluasi di Provinsi Banten ini menjadi langkah konkret menuju pencapaian target nasional tersebut.

“Dengan komitmen yang diperkuat, jejaring yang solid, serta dukungan masyarakat, Indonesia bebas PD3I bukanlah hal mustahil,” tutup Ati.(Adv)